KH Ahmad Dahlan merupakan seorang ulama yang dikenal luas akan keilmuannya serta kontribusinya dalam membawa perubahan pada masyarakat. Melalui pendidikan, beliau berupaya memajukan umat Islam agar memiliki pengetahuan luas serta mampu menghadapi perkembangan zaman. Pendiri Muhammadiyah ini mengajarkan pentingnya memadukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern untuk menjawab tantangan masyarakat dan memajukan bangsa. Sosoknya bukan hanya seorang ulama yang menguasai ilmu agama secara mendalam tetapi juga terbuka pada pemikiran-pemikiran baru.
Menurut KRH Hadjid, salah satu muridnya, KH Ahmad Dahlan dikenal memiliki rasa khauf atau rasa takut kepada Allah yang mendalam. Rasa khauf ini tampak dalam setiap tindakan beliau yang mencerminkan ketakwaan tinggi serta kepatuhan terhadap nilai-nilai agama. Beliau selalu mengingatkan pentingnya mengarahkan hidup dengan tujuan yang jelas, yaitu sebagai bekal untuk kehidupan setelah mati, sesuai dengan kutipan terkenalnya yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia hanyalah kesempatan sekali untuk bertaruh, apakah kita akan hidup bahagia atau sengsara di akhirat.
Sebagai seorang ulama sekaligus saudagar batik, KH Ahmad Dahlan memiliki harta yang cukup, namun beliau memilih menjalani hidup dengan sederhana. Sikap beliau tercermin tatkala sekolah yang didirikan nya kekurangan biaya sekitar 500 gulden untuk membayar para guru dan operasional sekolah. Akhirnya KH Ahmad Dahlan berinisiatif untuk melelang perabotan yang ada didalam rumahnya, kursi, meja, baju, kaca dll. Terkumpullah 4000 gulden, beliau hanya mengambil 60 gulden untuk membayar hutangnya sisa uang digunakan untuk operasioanl sekolah dan untuk uang kas Muhammadiyah. Bahkan muridnya KH Hadjid mengatakan “KH Dahlan setelah melelang perabotan rumahnya seakan bertelanjang bulat” maksudnya adalah KH sudah tidak memiliki apa apa lagi.
Berpijak dari sikap mulia ini, KH Ahmad Dahlan telah menunjukkan keteladanan luar biasa tentang pengorbanan dan keikhlasan demi pendidikan dan perjuangan untuk menegakkan ajaran Islam lewat organisasi yang didirikannya. Tindakan beliau menjadi bukti nyata bahwa kepemilikan harta bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan sebagai wasilah untuk menggapai ridho Allah SWT
Di era modern ini, semakin banyak orang yang hidup dalam individualisme dan gaya hidup hedonis, mengejar kepuasan pribadi dan kebendaan semata. Fenomena ini bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Beliau selalu mengingatkan umat untuk tidak tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sementara dan untuk mengutamakan kepentingan kepentingan kehidupan akhirat. Hidup dengan tujuan mulia, menurutnya, adalah dengan berkontribusi terhadap umat.
Pesan KH Ahmad Dahlan agar kita hidup sebagai ladang amal sebenarnya sangat relevan untuk direnungkan saat ini. Beliau menunjukkan bahwa kehidupan di dunia hanya memiliki nilai jika digunakan untuk membantu orang lain dan memberikan manfaat. Nilai-nilai keteladanan yang ditunjukkan dalam hidupnya seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang agar tidak terlalu terikat pada hal-hal material, tetapi lebih fokus pada kehidupan yang bermakna dengan tujuan akhirat.
Refleksi terhadap kutipan beliau, “Kita manusia hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh sesudah mati akan mendapat bahagia atau sengsara,” hendaknya membuat kita bertanya: sudahkah kita menjalani hidup dengan penuh makna? Nilai kehidupan apa yang sudah kita contoh dari kehidupan KH Ahmad Dahlan? Sudahkah kita mencari bekal untuk perjalanan panjang menuju kampung akhirat ?
Inilah pertanyaan yang perlu kita jawab sendiri, sudah sampai manakah level kehidupan kita?
Penulis Fauzi Rochman, S.Pd.I., M.S.I
Wakil Ketua Bidang Riset, Teknologi dan MSDM
PDPM Kota Yogyakarta