Urgensi Islamic World View Sebagai Paradigma Dalam Berpikir

Risalah Islam

Istilah Islamic Worldview mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, sering kita jumpai istilah ini dalam seminar, pelatihan, kajian atau bahkan bangku kuliah yang konsen terhadap problematika Islam masa kini. Lantas apakah yang didefinisikan sebagai Islamic worldview ?

Terminologi Worldview

Worldview diadopsi dari bahasa jerman weltnshauung/weltanzincht  yang berarti pandangan hidup. Islam menfasirkan worldview dengan istilah al-Islamiy atau at-tasawwur al-Islamiy atau bahkan nazharaat al-Islamiyyah. Berdasarkan uraian terminologi tersebut dapat dipahami bahwa worldview merujuk pada sebuah sistem pandangan hidup.

Worldview adalah kepercayaan

Ninian Smart penulis berkebangsaan Skotlandia sekaligus profesor studi agama pertama di Lacaster mengemukakan bahwa worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral. Jadi worldview adalah segala sesuatu yang berada di dalam diri manusia yang difungsikan sebagai penggerak atau pengendali dalam berbagai aspek kehidupan. Masih sejalan dengan Ninian Smart, Thomas F. Wall mengemukakan bahwa worldview adalah sistem kepercayaan dasar yang integral tentang diri kita, realitas serta pengertian eksistensi. 

Worldview sebagai realitas kebenaran

Berbeda pendapat dengan Prof. Alparslan Acikgenc seorang ilmuan Turki beliau mendefinisikan worldview secara lebih luas lagi. Implikasi teori worldview dalam pandangan Alparslan adalah visi tentang realitas dan kebenaran sebagai kesatuan mental yang bersifat arsitektonik dan berperan sebagai asas yang tidak teramati semua bagi perilaku manusia. Worldview yang dipaparkan Alparslan merupakan pegertian yang tepat karena ia memadukan antara realitas dan kebebenaran, sedangkan kita cermati lebih dalam lagi definisi-definsi sebelumnya tidak mencantantumkan kebenaran kecuali potensi-potensi yang dirasakan oleh manusia.
Islam dalam memandang Worldview

Worldview dalam islam merujuk dari definisi yang disampaikan beberapa tokoh diantaranya Al-Maududi. Menurut Maududi Islam adalah sebagai sebuah sistem pandangan hidup mulai dari konsep ke-Esaan Tuhan As-Syahadah yang berimplikasi pada segala aspek kehidupan di dunia. Dari definisi yang dipaparkan oleh Maududi dapat dijabarkan secara luas bahwa Islam berawal dari persaksian kepada Tuhan dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan diaplikasikan secara komprehensif dalam kehidupan seperti hubungan sosial, pendidikan, perdagangan, politik, bekerja, menikah, beribadah dan lainnya semua itu adalah aplikasi dari kehidupan beragam yang bermuara pada dari satu konsep yaitu As-Syahadah.

Menurut Atif Al-Zayn pandangan hidup Islam adalah Aqidah Fikriyyah. Aqidah Fikriyyah adalah kepercayaan yang berdasarkan pada akal, yang dari padanya lahir sistem. Secara konseptual Aqidah Fikriyyah yang dimaksud merupakan iman syahadah yang dibebankan kepada seorang muslim yang sudah mukallaf(baligh). Iman dan syahadah inilah akan termanifestasikan melalui politik Islam, tradisi keilmuan dalam Islam, ekonomi Islam tradisi filsafat Islam.

Sedangkan menurut Sayyid Qutb, Islam adalah akumulasi keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap muslim yang memberi gambaran tentang wujud dan apa-apa di balik itu. Pendapat beliau menggabungkan antara dimensi akal dan iman, dimana keduanya berfungsi untuk membaca realitas atau wujud yang tampak dan juga relitas unsur yang bersifat metafisik atau yang tidak tampak.

Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas juga menegaskan kembali argumen Sayyid Qutb, bahwa Islam adalah pandangan tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan hakekat wujud dalam sebuah kutipan beliau menjelaskan bahwa “is then the vision of reality and trut that appears before the mind’s eye revealing what existence is all about for it is the world of experience in its totality that Islam is projecting”. Argumen Syed Muhammad Naquib Al-Attas masih sejalan dengan Sayyid Qutb bahwa pandangan Islam itu ada dua dimensi, dimensi fisik dan dimensi metafisik.

Fungsi worldview di era kontemporer

Kita ambil contoh kasus beberapa bulan lalu yang sempat hangat diperbincangkan media sosial tentang childfree. Salah satu influencer sekaligus YouTuber asal Indonesia yang tinggal di barat menyampaikan statment bahwa childfree merupakan rahasia awet muda bagi dirinya dan wanita lain yang untuk memutuskan tidak mempunyai anak dan menyebut bahwa childfree bisa menjadi “bahan” anti-aging alami.

Baginya tidak memiliki anak menjadi cara melawan penuaan alami karena memperbolehkannya untuk tidur selama 8 jam dengan nyenyak dan setiap harinya tanpa strees mendengar teriakan anak. Tak hanya itu saja dia menambahkan bahwa tidak punya anak dapat menghemat pengeluaran dan bisa menyimpan lebih banyak uang untuk melakukan perawatan tubuh dan botox.

Dari pernyataan tersebut kita dapat melihat cara pandang yang diaplikasikan oleh influencer tersebut. Apakah dia memandang Tuhan memiliki hak untuk mengatur urusan hidupnya atau tidak? Atau adakah kaitan antara pilihan tidak mempunyai anak dengan ajaran dari Tuhan? Dan bagaimana nabi Muhammad SAW dalam mencontohkan hal ini, apakah dia mencontoh yang dilakukan nabi padahal nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik contoh uswah hasanah bagi umatnya.

Lalu pandangan terhadap dirinya apakah ia meyakini bahwa tubuh yang ia gunakan untuk melakukan aktivitas berdaulat dengan sendirinya tanpa ada campur tangan Tuhan sehingga ia berhak melakukan segala hal ada tanpa adanya kebijakan dan tuntunan dari Tuhan. Jika seseorang berpandangan bahwa Tuhan tidak mencampuri urusan hidupnya dan berpandangan dirinya berdaulat tanpa ada campur tangan Tuhan, maka hal demikian akan berdampak pada tindakan dan perilakunya.

Maka muncullah statmen tadi yang mengatakan bahwa seseorang memutuskan dengan sendirinya untuk tidak memiliki anak adalah sesuatu hal yang baik bahkan bisa menjadikan seseorang awet muda, dan menganggap akan merepotkan jika memiliki anak. Lantas untuk apa Tuhan menciptakan wanita, memberikan rahim, ASI dan sebagainya, padahal sejatinya Tuhan menciptakan segala sesuatu itu tidak sia-sia.

Karakteristik orang yang memiliki worldview

Maka dari itu agar seseorang memiliki worldview yang benar maka pemahaman terhadap Tuhan haruslah benar. Untuk itu perlunya mengenal Tuhan dengan seksama, dengan cara memahami ayat – ayatNya, baik ayat – ayat kauniyah ataupun qouliyah. Dalam Al-Quran juga banyak terdapat perintah untuk selalu berfikir terhadap alam semesta, tentang lingkungan dan juga hakekat manusia diciptakan. Jika hal tersebut direnungi dengan sungguh – sungguh maka Tuhan akan menunjukan jalan-Nya.

Seorang muslim juga harus memahami konsep kenabian dengan benar, khusunya Nabi Muhammad SAW sebagai uswah khasanah ketika seorang muslim sudah bersyahadat dan bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, maka seorang muslim harus menerima konsekuensi dari apa yang sudah diikrarkan dengan cara menerima semua tuntunan yang diajarkan oleh nabi. Karena nabi Muhammad SAW diutus sejatinya untuk memberikan teladan bagi yang baik umatnya.

Ditulis oleh :Nurul Wijaksono (Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *