Ada sebuah hal menarik yang saya dapatkan ketika bersilaturahmi kesalah satu ustadz senior sewaktu masih mondok yang berada disebelah barat Yogyakarta. Perbincangan ngalor-ngidul yang susah disimpulkan memang menjadi sebuah keniscayaan pada malam itu. Bahasan politik hingga persoalan agama yang tak bisa lepas dari unsur intrik menjelma menjadi narasi padat yang kadangkala sulit ditebak kapan berakhirnya.
Karena keterbatasan porsi pengetahuan yang saya miliki, menyimak obrolan pada malam itu membuat pikiran saya agak sedikit low connection alhasil saya hanya bisa tertunduk sambil menimpali nggah-nggih biar dikira paham dengan apa yang sedang dibicarakan. Saya yang awalnya hanya menunduk sambil memasang muka sok paham dibuat terperanjat setelah beliau menukil cerita dari hasil buah pikir Mbah Nun tentang seorang kiai yang kenikmatan akhiratnya terhalang gara-gara masalah sepele.
Sontak Cerita tadi juga turut memutar memori otak saya saat ikut nimbrung dalam maiyahan yang digelar sebulan sekali tepatnya setiap tanggal 17 malam di Tamantirto, Kasihan Bantul. Pada waktu itu Cak Nun menguraikan peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dimana para oknum berlomba-lomba dalam mengeruk martabat dan kekayaan negara tanpa memperdulikan kehalalan dan keberkahannya, terlebih dengan drama melanggengkan kekuasaan keluarga dengan menabrak bermacam-macam regulasi. Belum lagi kasus korupsi yang kian lama semakin pekik menyeruak diantero bumi pertiwi. Apa yang sedang menimpa negeri ini, sudah lebih dulu direspon oleh Cak Nun dengan menukil kisah Slilit Sang Kiai sebagai pelengkap bahasan maiyah dimalam itu.
Slilit Kiai
Dikisahkan ada seorang kiai selesai mengisi kenduri disebuah kampung, jamuan yang dihidangkan lahap dimakan oleh para jamaah termasuk kiai tersebut. Seusai mengisi acara sang kiai pun bergegas untuk kembali pulang ditemani oleh seorang santrinya, akan tetapi ditengah perjalanan sang kiai merasakan ada slilit yang bersarang di tengah-tengah giginya. Ia pun berusaha mencari alat bantu untuk mencongkel slilit yang mengotori giginya.
Pada saat itu beliau melihat ada pagar bambu didepannya, tanpa berpikir panjang sang kiai langsung memerintahkan santrinya untuk mencukil bambu itu buat membersihkan slilitnya yang mengganggu. Singkat cerita, setelah kiai itu wafat santri yang waktu itu diperintah kiai untuk mengambil secuil bambu bertemu dengan sang kiai melalui alam mimpi. Dalam mimpinya santri itu melihat bekas siksaan pada tubuh kiai, rupanya sang pemilik pagar bambu itu tak rela jika pagarnya telah dicuil. Lantas sang kiai itu menyuruh santrinya untuk memintakan kehalalan pada sang pemilik pagar agar dibebaskan dari siksaan.
Kompetitor meraih ketaqwaan
Semasa hidupnya sang kiai memang dikenal sebagai orang yang rajin dalam beribadah dan sudah familiar dengan jalan taqarrub kepada-Nya, tetapi peristiwa mengutil kayu untuk membersihkan slilit tak bisa dilupakan begitu saja. Betapapun banyaknya amalan yang dihimpun sang kiai tak menutup kemungkinan bahwa ia masih bisa tergelincir.
Dilain sisi Inna akramakum indallahhi atqakum menjadi rumus yang sudah jelas bahwa Allah melihat hambanya dari kadar ketaqwaannya, bukan pangkat intelektualitasnya. Kesombongan masih kerap menjadi kompetitor terbesar disaat seseorang sedang mengais amal kebaikan. Perasaan lebih masuk surga dari orang lain masih sulit dihindari disaat manusia bertanding memperebutkan amal kesalehan, sehingga pelajaran ketawadlu’an sangat diperlukan untuk menghadapi hal tersebut.
Ibadah bukan ajang mengunggulkan diri
Dalam jurnalnya yang bertajuk kesombongan Cak Nun pernah mengatakan :Orang sholat dan beribadah itu sebagai latihan untuk mecampakkan diri, bukan untuk mengunggulkan dan menegakkan diri. Mencampakkan diri dihadapan Allah dengan cara bersujud dan tersungkur-sungkur supaya kita siap untuk berlaku rendah hati kepada siapapun.
Bisa jadi amalan yang sudah segunung itu seketika menjadi failed karena timbulnya kesombongan walaupun itu sedikit. Nggak ada yang tau persis bagaimana cara Allah memberikan balasan bagi para hambanya, yang jelas Allah sudah nyah-nyoh bagaimana rumus memasuki pintu-pintu kebahagiaan yang abadi dan cara menghindarkan diri dari pintu kemurkaan-Nya.
Kisah yang sudah mendarah daging tentang diangkatnya seorang laki-laki yang telah membunuh 100 orang menjadi penghuni surga yang sempat membuat perdebatan dikalangan malaikat atau kisah seorang pelacur yang menolong seekor anjing tentu menambah rasa penasaran dikalangan umat manusia bagaimana Allah membuat skema balasan bagi setiap makhluknya.
Negosiasi antara Tuhan dan Kiai
Tampaknya kiai tadi sedang sedang bernegosiasi dengan Tuhan, bagaimana tidak sesuatu sekecil apapun pasti akan dihitung oleh kalkulatornya Allah yang maha teliti. Tak berselang lama setelah sang ustadz mengutip cerita tentang kiai tadi, sampailah perbincangan kami diujung khafaratul majelis, saya pun masih terngiang oleh potongan bambu kecil yang bisa membuat kiai itu mendapat siksa akhirat.
Bagaimana jika yang diambil segelondong kayu atau uang miliaran milik negara atau bahkan sampai ngrogohi dana hajinya umat ?. Kisah yang ditawarkan Cak Nun tadi seakan penuh dengan nilai-nilai luhur dan pelajaran moral yang masih sangat relevan hingga saat ini. Bukan hanya perkara nggosob hak orang lain adalah kegiatan yang tidak terpuji, disamping itu amalan-amalan yang sudah kita himpun tak menutup kemungkinan mendapat remedial akibat dari perkara-perkara kecil yang kita sering luput darinya.
Penulis :Rivaldi Darmawan S.Pd (Anggota Bidang Riset & MSDM Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta)