K.H Imam Zarkasyi merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren Darussalam Gontor, lahir di desa Gontor, Jawa Timur pada tanggal 21 Maret 1910 M. beliau dikenal sebagai tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang selalu berwasiat kepada para santrinya agar menjadi pejuang. Pesan yang beliau sampaikan tidak lepas dari pengalaman beliau ketika masih muda yang dibesarkan di zaman yang tidak menyenangkan yaitu pada masa penjajahan dan masa peceklik penuh dengan perjuangan. Semasa mudanya Imam Zarkasyi sudah menimba ilmu di beberapa pesantren diantaranya di pesantren Josari, pesantren Joresan dan pesntren Tegal Sari.
Karya Pemikiran KH Imam Zarkasyi
Karya dari K.H Imam Zarkasyi suah dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, banyak gagasan dan pemikiran yang berharga disampaikan beliau kepada murid dan anak – anaknya. Nasehat – nasehat dan gagasan beliau tertulis dalam sebuah buku yang ditulis oleh anaknya Muhammad Ridlo Zarkasyi yang berjudul “Ajaran Kiai Gontor: 72 Wejangan Hidup K.H Zarkasyi” yang berisikan kumpulan prinsip – prinsip hidup yang dijadikan kompas rujukan arah yang selalu dipegang oleh santri dan alumni – alumni gontor.
Kami kutipkan nasehat yang sering beliau sampaikan kepada santrinya tentang hidup adalah perjuangan. “hidup tanpa perjuangan bukan hidup namanya” tutur K.H Imam Zarkasyi dalam buku “Ajaran Kiai Gontor: 72 Wejangan Hidup K.H Zarkasyi.” Dalam buku tersebut dituliskan “ Inna hayaata aqiidatun wa jihaadun” (Sesunggunya hidup itu keyakinan dan perjuangan) begitu pesan yang sering kita dengar. Hidup ini tak lain adalah perjuangan dan mempertahankan aqidah. Hidup ini perjuangan.
Antara Hidup dan Perjuangan
Kita tidak bisa memilih antara berjuang atau tidak berjuang. Selama kita ingin hidup, perjuangan itu mutlak dilakukan. Tanpa perjuangan kita akan mati dalam kehidupan. Hanya saja, yang perlu kita bedakan kepentingan siapa yang kita perjuangkan dan bagaimana kita memperjuangkannya. Sebagai orang pesantrean, berjuanglah untuk kemaslahatan orang banyak. Jangan hanya berjuang untuk kepentingan diri sendiri. Bondo,bahu, piker ( harta tenaga pikiran ) untuk kemaslahatan umat.
Kemanfaatan kita di dunia ini ditentukan dari “cita – cita kita bersama orang banyak.” Harga kita ditentukan oleh seberapa luas cita – cita kita, perjuangan kita tersebut. Nilai kita diukur oleh seberapa banyak kepentingan umat yang kita perjuangkan. Satu orang yang memperjuangkan kepentingan seribu orang, nilainya akan sama dengan seribu orang tersebut.
Sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak. Syarat untuk bisa memperjuangkan kepentinga orang banyak adalah selalu berpikir apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Berjasalah, tetapi jangan meminta jasa. Supaya nafas perjuangan kita panjang, yang perlu kita amalkan adalah keikhlasan. Hanya kepada Allah-lah kita emnggantungkan harapan dari perjuangan kita.
Nasehat Qs. Luqman :17
Pesan K.H Imam Zarkasyi bahwa hidup itu adalah masih sejalan denga nasehat Lukman al –Hakim kepada anaknya sebagaimana tertuang dalam surat lukman ayat 17 “Wahai anakku, dirikanlah shalat, dan tegakkanlah kebaikan serta cegahlah kemunkaran.” Ayat ini mengajak kita untuk selalu berjuang menegakkan kebaikan dan menghalangi segala macam kemunkaran yang ada.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mohammad Natsir pada tanggal 17 Agustus 1951 dengan judul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” Melalui artikel tersebut Natsir menuliskan kekhawatiran kondisi manusia Indonesia yang mulai dijangkiti oleh pemyakit bakhil; bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalelanya sifat serakah. Orang yang bekerjanya tidak sepenuh hati lagi, orang sudah keberatan memberikan keringantnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Kata Mohammad Natsir “ Orang sudah mencari untuk dirinya sediri, bukan mencari cita – cita diluar dirinya. Lampu cita – cita sudah padam kehabisan minyak, program – program sudah tamat, tidak tahu lagi apa yang akan dibuat.”
Meraih Kebahagiaan
Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat membutuhkan sebuah perjuangan dan pengorbanan, baik perjuagan lahiriyah maupun batiniyah dan untuk menggapainya tidaklah mudah, maka Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam mengingtakan kita bahwa surge itu diselimuti oleh hal – hal yang tidak disukai oleh kebanyakan manusia, begitu sebaliknya neraka diselimuti oleh hal – hal yang menarik dan disenangi oleh mayoritas manusia.
Maka tidaklah sehat jika suatu organisasi, lembaga, atau kehidupan bangsa ini dipenuhi dengan budaya pragmatism dan materialism yang menyebabkan manusia enggan untuk berjuang, maunya hidup enak nyaman dan serba instan. Dan apabila melakukan sesuatu selalu mengakiatkan dengan imbalan dan balas jasa. Pudar sudah keikhlasan dalam sebuah perjuangan.
Dalam buku “Ajaran Kiai Gontor: 72 Wejangan Hidup K.H Zarkasyi” beliau menyebutkan perjuangan memerlukan nafas yang panjang, selain keikhlasan, sebagai syarat agar panjang nafas perjuangan kita, ada resep yang perlu diingat yakni “ Janagan berkecil hati dalam menghadapi masa depan.”
Dalam hidup ini akan selalu ada masalah, ujian dan cobaan. Jangan menghindari masalah jika harus terjadi. Jangan meninggalkan masalah jika harus dihadapi. Selesaikan masalah ujian dan cobaan itu dengan tenang. Nah, sebesar hati ketika menghadapi masalah dan dan cobaan hidup, itulah kunci kesuksesan masa depan. Ingatlah bahwa masa depan masih cerah, datangnya masalah justru sebetulnya untuk medidik, melatih kesabaran kita, menuntut kesungguhan kita, dan memperkuat karakter kita. Orang bijak mengatakan “orang lemah dihancurkan oleh masalah, tetapi orang yang kuat dicerahkan oleh masalah.”
Nurul Wijaksono (Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta)