Mengenal Filusuf Islam yang Karyanya di Lenyapkan

Inspirasi Tokoh

Sudah tidak asing lagi ditelinga kita ketika mendengar nama tokoh filusuf era Yunani kuno, sebut saja Sokrates, Aristoteles, dan Plato. Mereka merupakan tokoh filusuf terkemuka tidak sedikit pemikiran mereka yang diadopsi pada era sekarang baik di dunia politik, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Namun tahukah kita di Islam kita juga memiliki tokoh filusuf yang tidak kalah hebatnya dengan para filusuf Barat. Sebut saja Al – Kindi, ia merupakan salah satu filusuf muslim yang bisa dibilang masyur. Banyak karya Al-Kindi, yang dilenyapkan dimasa kekhalifahan Al-Mutawakkil dari Bani Abbasiyah yang terjadi karena penyerangan bangsa Mongol.

Mengenal Al-Kindi

Nama lengkap ia adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi, belaiu lahir di Kufah Iraq pada tahun 801 di masa pemerintahan khalifah Harun ar – Rasyid (786-809) dari Daulah Abbasiyah. Al- Kindi berasal dari keluarga bangsawan dari suku Kinda. Ia dibesarkan dalam keadaan yatim, beberapa tahun setelah kelahiran Al – Kindi ditinggal ayahnya wafat.

Al – Kindi pada masa remajanya sudah banyak mempelajari ilmu tentang sastra, agama, dan ia juga sudah mulai menerjemahkan beberapa buku Yunani ke dalam Bahasa Arab.

Kota kufah merupakan pusat kelilmuan dan kebudayaan Islam (di samping kota Basharah). Kota Kufah terkenal dengan keilmuannya yang mengedepankan rasionalitas (aqliyah) sedangkan di Bashrah lebih mengedepankan ilahiyah (naqliyah). Sehingga dari  situlah sosok Al – Kindi menjadi ulama pada bidang filsafat, bukan seorang muhaddisin ataupun mufassir.

Pengembaraan keilmuan

Al – Kindi lebih mendalami bidang ilmu sains dan filsafat daripada ilmu agama, akan tetapi  bukan berarti Al-Kindi tidak memperhatian terhadap ilmu agama ia juga mempelajarinya.ia mempelajari filsafat juga ditujukan untuk menguatkan teologi Islam dimasa mendatang.

Dari Kufah, Al – Kindi melanjutkan studinya ke Baghdad yang merupakan pusat peradaban di masa itu yaitu masa Daulah Abbasiyah. Di Baghdad ia mempelajari filsafat ilmu bahasa dan pemikiran rasonal lainnya. Disela – sela waktu belajar Al – Kindi tetap aktif menerjemahkan buku filsafat Yunani.

Berkat ketelatenan dan kerativitasnya dalam menerjemahkan buku – buku asing ke dalam Bahasa Arab ia dianggap sebagai penerjemah pertama dalam sejarah Arab yang menerjemahkan buku asing ke dalam Bahasa Arab.

Tidak hanya menerjemahkan ia juga memberikan penjelasan – penjelasan ringkas atas kalimat yang pelik , dan meringkas argument – argument yang panjang agar mudah dipahami. Beiiau juga medapatkan julukan sebagai penerjemah ulung.

Menjadi tabib kerajaan

Di kota Baghdad Al – Kindi diperlakukan dengan baik oleh Khalifah al – Makmum dan Mu’tashim, sampai pada akhirnya ia mendatkan posisi penting sebagai guru dan tabib kerajaan. Ia mendapatkan kepercayaan kalifah al – Mu’tashim untuk mendidik anaknya.

Pada masa Khalifah Harun ar- Rasyid daulah Abbasiyah mengerjakan proyek ambisius, diantaranya pembangunan perpustakaan, sebagai pusat penerjemahan teks – teks Yunani ke dalam bahasa Arab, sekaligus Lembaga penelitian yang dinamai “Baitul Hikmah”.

Tujuan utama proyek ini adalah memindahkan peradaban keilmuan Yunani ke Baghdad. Pada masa itu al – Kindi ditunjuk sebagai  direktur Baitul Hikmah. Dari sini dapat kita mengambil kesimpulan bahwa ketika suatu Negara menginginkan kemajuan dalam peradabannya ia harus meningkatkan proyek literasi.

Fungsi ilmu untuk peradaban

Sejatinya ilmu pengetahuanlah yang berperan besar dalam perkembangan peradaban. Hal inilah yang dilakukan oleh Khalifah Harun ar – Rasyid sehingga  kota Baghdad menjadi pusat studi humaniora da sains terbaik pada Abad Pertengahan Islam.

Ilmuwan di Baitul Hikmah tidak hanya menerjemahkan teks Yunani saja akan tetapi menerjemahkan juga teks India dan Persia. Dari teks tersebut mereka mengembangkan ilmu matematika, astronomi, fisika, kedokteran alkimia, ikimia dan lainnya.

Pada masa Khalifah Mu’tashim, al – Kindi mendapafkan banyak kebaikan dari kerajaan. Setelah kekhalifahan Mu’tashim berakhir, Al – Kindi mengalami perlakuan yang tidak baik oleh kerajaan,  bahkan ia sempat mendapat pukulan hingga perpustakaannya disita.

Hal ini terjadi di masa kekhalifahan al – Mutawakkil, ia mendapatkan perlakuan yang berdanding terbalik dari sebelumnya. Al – Mutawakkil terpengaruh oleh hasutan orang yang iri  terhadap prestasi Al – Kindi dalam segala bidang. Dan akhirnya ia di pecat dari jabatannya sebagai  direktur Baitul Hikmah.

Karya yang dilenyapkan

Al – Kindi meninggal pada tahun 873 pada masa pemerintahan Khalifah al – Mu’tamid. Adapun karya – karya Al – Kindi banyak yang menghilang, ada setidaknya  tiga faktor. Pertama sikap ortodoksi  Khalifah a-Mutawakkil yang memerintahkan untuk menghilangkan karya – karya Al – Kindi.

Kedua, penghancuran pasukan Mongol atas Baitul Hikmah dan perpustakaan – perpustakaan lain semasa invasi terhadap  Jazirah. Ketiga, karyanya  tidak mendapatkan popularitas terhadap filusuf berpegaruh berikutnya seperti Al – Farabi dan Ibnu Sina.

Salah satu masterpiece karya Al – Kindi yang masih bertahan adalah Al – Falsafah al – Ula. Menurut Ibnu Nazhim al Kindi menulis seetidaknya ada 260 buku, dengan rincian 32 buku geometri, 22 buku untuk kedokteran dan filsafat, 9 buku logika, dan 12 buku fisika dan lainnya.

Kritik filsuf islam kepada filsuf Yunani Kuno

Kritik Ibnu Khaldun terhadap filusuf Yunani Kuno, dalam buku Al- Muqoddimah Ibnu Khaldun ia menunjukkan sikap kritis terhadap filsafat Yunani Kuno, terutama dalam hal teologi, dan konsepsi mereka tentang Tuhan.

Ia menilai bahwa banyak pemikir Islam pada masanya terpengauh secara berlebihan oleh pemikiran filusuf Yunani Kuno seperti Aristoteles, plato, dan Plotinus, khususnya dalam bidang metafisika dan kosmologi.

Ibnu Khaldun menekankan bahwa filsafat Yunani hanya menggunakan akal sebagai dasar berfikir inilah yang membuat mereka menyimpang dalam hal – hal yang bersifat metafisik dan teologis.

Filusuf Yunani dalam menggambarkan Tuhan sebagai “sebab pertama” (causa prima), tetapi Tuhan dalam pengertian mereka seringkali tidak mengetahui tidak memiliki kehendak aktif seperti yang diyakini dalam teologi Islam.

Menurut Ibnu Khaldun para ulama dan filusuf muslim yang mempelajari filsafat Yunani tanpa pemahaman kritis sering terperangkap pada pandagan yang menyimpang. Bahkan meninggalkan prinsip – prinsip dasar Islam, seperti konsep Tuhan,wahyu dan hari akhir.

____

Nurul Wijaksono, Anggota BPK PDPM Kota Yoyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *