Oleh: Ustadz Sholahuddin Zuhri
Wakil Ketua PWPM DIY
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika datang ke pengajian.
Kita menganggapnya sebagai agenda rutin. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang-orang yang berkumpul karena Allah, belajar karena Allah, lalu berpisah karena Allah, termasuk golongan yang mendapat naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan Allah.
Karena itu, setiap pertemuan di Muhammadiyah seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi ruang untuk menguatkan iman, memperbaiki diri, dan memperbarui kesungguhan dalam beragama.
Saya teringat perjalanan mengisi pengajian di Turi, Sleman, tempo lalu. Jadwal yang padat, tubuh yang masih lelah, hingga rasa kantuk karena waktu tidur yang sangat sedikit sempat menghadirkan keinginan untuk membatalkan kajian. Namun justru di situlah saya kembali teringat pada satu pelajaran sederhana: kesungguhan tidak lahir ketika keadaan sedang mudah. Kesungguhan justru diuji ketika alasan untuk berhenti terasa begitu banyak.
Di situlah saya teringat kepada KH Ahmad Dahlan. Banyak orang mengenal Muhammadiyah melalui Teologi Al-Ma’un. Padahal, sebelum mengajarkan Al-Ma’un, beliau terlebih dahulu mengajarkan Surah Al-Asr.
Dan mungkin, di situlah rahasianya.
Sebelum Al-Ma’un, Ada Al-Asr
Selama ini kita sering mengidentikkan Muhammadiyah dengan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, atau gerakan sosial. Semua itu benar.
Namun amal besar itu tidak lahir begitu saja.
KH Ahmad Dahlan terlebih dahulu membangun disiplin kader melalui Surah Al-Asr.
“Wal ‘Ashr.”
Surah yang sangat pendek itu ternyata sedang mengajarkan sesuatu yang sangat besar: menghargai waktu, bersungguh-sungguh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.
Peradaban tidak dibangun pertama-tama oleh banyaknya orang, tetapi oleh kualitas kesungguhan orang-orang yang menggerakkannya.
Muhammadiyah yang besar hari ini lahir dari orang-orang yang tidak menjadikan dingin sebagai alasan, panas sebagai alasan, atau rasa lelah sebagai alasan untuk berhenti berkhidmat.
Tidak Ada Kemuliaan Tanpa Mujahadah
Para ulama pernah mengingatkan:
“Bagaimana mungkin seseorang meraih kemuliaan jika dingin dijadikan alasan, panas dijadikan alasan, atau rasa lelah dijadikan alasan?”
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru di situlah inti perjuangan.
Semua orang ingin derajatnya diangkat oleh Allah. Semua orang ingin surga. Tetapi ketika ditanya, “Siapa yang siap menghadapi ujian?” hampir semua tangan turun.
Padahal Allah telah berfirman:
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu ujian?” (QS. Ali Imran: 142)
Begitu pula dalam Surah Al-Ankabut ayat 2, Allah mengingatkan bahwa orang yang mengaku beriman pasti akan diuji.
Kalau siswa TK mendapat ujian sederhana, mahasiswa tentu menghadapi soal yang lebih sulit. Begitu pula iman. Semakin besar amanah yang kita emban, semakin besar pula kualitas kesungguhan yang dituntut.
Karena itu, Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki mujahadah—kesungguhan yang tidak mudah runtuh oleh keadaan.
Fastabiqul Khairat Bukan Sekadar Ikut Berlomba
Kita sering menerjemahkan Fastabiqul Khairat sebagai “berlomba-lomba dalam kebaikan.”
Terjemahan itu benar.
Tetapi ada makna yang lebih dalam.
Kalau semua pilihan sama-sama baik, maka fastabiqul bukan hanya berarti ikut berlomba. Tetapi bagaimana kita bisa memastikan bahasawanya perlombaan dalam kebaikan itu bisa kita memenangkan, dan itu terkemas dalam wazan “istabaqo” yang berarti berusaha menjadi yang terdepan dalam kebaikan.
Menjadi kader Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir. Tidak cukup hanya menjadi rutinitas. Tidak cukup hanya mengisi daftar hadir pengajian.
Harus ada semangat memberi kualitas terbaik.
Karena kebaikan yang biasa-biasa saja tidak akan melahirkan peradaban yang luar biasa.
Tauhid yang Membuat Kita Tetap Berbuah
Kesungguhan itu tidak mungkin bertahan tanpa fondasi yang kokoh. Dalam Muhammadiyah, fondasi itu adalah tauhid. Seluruh gerak persyarikatan dibangun di atas keyakinan bahwa Allah menjadi pusat orientasi hidup, sehingga Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi pegangan dalam setiap langkah.
Ketika tauhid benar-benar mengakar, cara kita memandang dunia pun berubah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan yang membuat kita gelisah, tetapi menjadi ladang untuk beramal.
Allah menggambarkan orang-orang beriman dalam Surah Ibrahim seperti pohon yang baik: akarnya menghunjam kuat, cabangnya menjulang ke langit, dan terus berbuah pada setiap musim dengan izin Tuhannya.
Inilah karakter yang seharusnya dimiliki warga Muhammadiyah.
Berbuah ketika keadaan lapang.
Tetap berbuah ketika keadaan sempit.
Tetap memberi manfaat saat dipuji.
Tetap memberi manfaat saat diuji.
Musim kehidupan boleh berubah, tetapi tauhid membuat seorang mukmin tidak kehilangan arah.
Menjadi Warisan Kebaikan
Pada akhirnya, Muhammadiyah bukan hanya sedang membangun sekolah, rumah sakit, atau amal usaha. Muhammadiyah sedang membangun manusia.
Ketika iman hidup di dalam keluarga, anak-anak tumbuh dengan petunjuk, cucu-cucu mengenal Al-Qur’an, dan generasi berikutnya mewarisi nilai yang sama.
Allah menjanjikan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali bersama keturunannya di surga ketika mereka sama-sama menjaga iman.
Karena itu, tugas kita hari ini bukan sekadar menjadi warga Muhammadiyah.
Tugas kita adalah memastikan semangat Muhammadiyah tetap hidup di rumah, di lingkungan, dan di hati generasi setelah kita.
Sebab pada akhirnya, kembali bermuhammadiyah bukan sekadar kembali mengenakan identitas persyarikatan, tetapi kembali kepada kesungguhan—kesungguhan dalam menjaga tauhid, menghargai waktu sebagaimana diajarkan Al-Asr, berlomba menjadi yang terdepan dalam kebaikan, dan terus berbuah di musim apa pun dalam kehidupan yang penuh dengan ujian.
Nasrun minallahi wa fathun qarib.