Oleh : Muhammad Tegar Yudha Perwira, S.Pt (Ketua PDPM Kota Yogyakarta)
“Mengapa Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad, sementara banyak organisasi lahir dengan semangat besar tetapi perlahan kehilangan arah?”
Jawabannya tentu tidak hanya satu. Namun, salah satu kekuatan terbesar Muhammadiyah terletak pada cara organisasi ini membangun kepemimpinan.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid telah berdiri lebih dari satu abad. Panjangnya usia persyarikatan ini ditopang oleh berbagai faktor yang menjadi pilar kekuatan pergerakannya. Salah satu pilar utama yang menjaga keberlangsungan dan soliditas Muhammadiyah adalah sistem kepemimpinannya yang sangat khas.
Kepemimpinan dalam Muhammadiyah bukan sekadar seni mengatur organisasi, melainkan sebuah bentuk ibadah dan amanah ideologis untuk menggerakkan dakwah persyarikatan. Konsep kepemimpinan ini kita kenal sebagai kepemimpinan kolektif-kolegial, sebuah sistem yang menjadikan kebersamaan lebih penting daripada dominasi satu figur.
Kepemimpinan Kolektif-Kolegial: Kekuatan yang Menjaga Persyarikatan
Kepemimpinan di Muhammadiyah tidak bertumpu pada figur tunggal, melainkan pada sistem kolektif-kolegial. Artinya, kepemimpinan dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh anggota pimpinan yang sah. Setiap keputusan merupakan hasil kesepakatan bersama, sedangkan posisi ketua bertindak sebagai first among equals—yang pertama di antara mereka yang setara.
Sistem ini membuat Muhammadiyah mampu meminimalkan subjektivitas seorang pimpinan, menghindari karakter kepemimpinan yang otoriter, sekaligus mencegah ketergantungan berlebihan kepada satu sosok.
Karena itu, setiap pernyataan maupun sikap resmi organisasi tidak lahir dari keputusan pribadi seorang pimpinan, tetapi melalui mekanisme rapat dan musyawarah. Dengan cara inilah keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan pemikiran persyarikatan secara utuh.
Musyawarah sebagai Pilar Pengambilan Keputusan
Budaya kolektif-kolegial memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ ٣٨
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya, melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat tersebut menjadi ruh dalam mekanisme pengambilan keputusan di Muhammadiyah.
Berbagai persoalan besar, mulai dari pemilihan pimpinan, evaluasi pertanggungjawaban, hingga penentuan arah program kerja, diselesaikan melalui forum permusyawaratan tertinggi di setiap tingkatan, seperti Muktamar, Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang, hingga Musyawarah Ranting.
Menariknya, dalam tradisi Muhammadiyah, voting bukanlah tujuan utama, melainkan mekanisme yang digunakan ketika diperlukan untuk memilih formatur sebagai representasi peserta musyawarah. Setelah itu, para formatur kembali bermusyawarah untuk menentukan susunan pimpinan yang dianggap paling tepat mengemban amanah persyarikatan.
Proses ini menunjukkan bahwa yang dicari bukan kemenangan pribadi, melainkan keputusan terbaik bagi kepentingan bersama.
Tiga Etika Dasar Seorang Pemimpin Muhammadiyah
Sistem yang baik membutuhkan pribadi-pribadi yang berkarakter. Karena itu, setiap pimpinan Muhammadiyah dituntut memiliki etika kepemimpinan yang kuat. Setidaknya terdapat tiga nilai mendasar yang harus melekat pada diri seorang pemimpin.
Amanah
Seorang pemimpin yang amanah menyadari bahwa jabatan adalah titipan Allah sekaligus kepercayaan warga persyarikatan yang harus ditunaikan hingga akhir.
Amanah bukan bahan pencitraan, apalagi alat untuk mencari keuntungan pribadi. Ia adalah tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Keteladanan (Uswah Hasanah)
Pemimpin Muhammadiyah tidak cukup hanya pandai memberi arahan. Ia harus menjadi teladan dalam akhlak, ibadah, kesederhanaan, dan pengabdiannya kepada organisasi.
Keteladanan inilah yang melahirkan kepercayaan. Sebab, pengaruh terbesar seorang pemimpin sering kali bukan berasal dari pidatonya, melainkan dari kehidupan yang ia jalani.
Tanggung Jawab
Program kerja bukan sekadar daftar kegiatan yang selesai di atas kertas.
Seorang pemimpin dituntut mengawal amanah hingga tuntas, bersikap kesatria ketika menghadapi persoalan, serta menjaga transparansi dalam mengelola dana umat yang dipercayakan melalui persyarikatan.
Belajar dari Keteladanan KH AR Fakhruddin
Nilai-nilai tersebut bukan hanya tertulis dalam pedoman organisasi. Muhammadiyah telah menghadirkan teladannya.
Salah satu sosok yang merepresentasikan ketiga nilai tersebut adalah KH AR Fakhruddin.
Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, ikhlas memperjuangkan persyarikatan, bijaksana, dan mampu merangkul berbagai golongan. Tidak mengherankan apabila beliau dikenang sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dengan masa khidmat yang sangat panjang.
Kepercayaan besar warga Muhammadiyah kepada beliau lahir bukan semata karena lamanya memimpin, tetapi karena konsistensinya menjaga amanah, menunjukkan keteladanan, dan mengutamakan kepentingan persyarikatan di atas kepentingan pribadi.
Pak AR membuktikan bahwa kewibawaan seorang pemimpin tidak selalu lahir dari kekuasaan yang besar, melainkan dari akhlak yang mulia dan kesederhanaan yang terus dijaga.
Menjaga Ruh Kepemimpinan Muhammadiyah
Di tengah zaman yang semakin menonjolkan figur dan popularitas, corak kepemimpinan kolektif-kolegial Muhammadiyah tetap relevan untuk dipertahankan.
Sistem ini mengajarkan bahwa organisasi dibangun melalui musyawarah, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama, bukan oleh dominasi satu orang.
Sebagai kader Pemuda Muhammadiyah, tugas kita bukan hanya memahami konsep kolektif-kolegial sebagai teori organisasi, tetapi menghidupkannya dalam setiap rapat, setiap musyawarah, setiap perbedaan pendapat, dan setiap amanah yang kita emban.
Sebab pada akhirnya, kekuatan Muhammadiyah bukan hanya terletak pada siapa yang memimpin, tetapi pada cara seluruh kader memilih untuk memimpin bersama.
Semoga kita mampu meneladani KH AR Fakhruddin serta menjaga corak kepemimpinan kolektif-kolegial Muhammadiyah tetap hidup hari ini, esok, dan di masa yang akan datang.
Aamiin.