Oleh: Ns. Imam Akbar, S.Kep., S.Psi., M.Kep.
Wakil Ketua Bidang Kesehatan & Kesejahteraan Masyarakat
Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta
“Kita sering berbicara tentang masa depan, tetapi jarang berbicara tentang tubuh yang akan membawa kita menuju masa depan itu.”
Kita ingin memimpin, membangun organisasi, mendidik generasi, dan memberi manfaat. Namun, kesehatan sering menjadi urusan yang ditunda: olahraga nanti, pemeriksaan nanti, makan sehat nanti, tidur cukup nanti.
Pernahkah kita melihat seseorang berusia 80 tahun yang masih mampu berjalan sendiri, berolahraga, pergi ke masjid, dan aktif di masyarakat? Di sisi lain, ada orang berusia 50–60 tahun yang sudah mengalami berbagai penyakit kronis dan mulai bergantung pada orang lain.
Apa yang membedakan keduanya?
Kualitas kehidupan pada usia lanjut dipengaruhi oleh pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, lingkungan, hubungan sosial, kesehatan mental, serta kebiasaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Menjaga kesehatan karena itu merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Allah SWT berfirman:
“…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah…”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Umur Panjang Bukan Sekadar Banyak Tahun
Dalam kesehatan dikenal istilah healthspan, yaitu masa kehidupan ketika seseorang tetap sehat, produktif, dan mampu menjalankan aktivitas secara mandiri. Karena itu, tujuan kesehatan bukan hanya memiliki lifespan yang panjang, tetapi juga healthspan yang panjang: tetap sehat dan mandiri selama mungkin.
Masa tua seperti itu merupakan hasil dari kebiasaan yang dibangun sejak muda.
Tujuh Kebiasaan untuk Menua dengan Sehat
Pertama, biasakan bergerak setiap hari. Bagi aktivis, tubuh sehat adalah modal menjalankan amanah organisasi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, berkebun, naik tangga, atau berolahraga bersama teman dapat menjadi kebiasaan yang baik.
Kedua, pilih makanan yang lebih sehat dan tidak berlebihan. Sayuran, buah, kacang-kacangan, ikan, dan makanan segar perlu menjadi bagian dari pola makan. Sebaliknya, konsumsi gula, garam, makanan cepat saji, dan makanan ultra-proses perlu dikendalikan. Al-Qur’an mengingatkan:
“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan…”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ketiga, jangan mengorbankan tidur dan istirahat. Kesibukan kuliah, pekerjaan, dan organisasi tidak seharusnya membuat begadang menjadi kebiasaan. Allah SWT berfirman:
“Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat.”
(QS. An-Naba’: 9)
Produktif bukan berarti harus terus terjaga.
Keempat, terus belajar agar otak tetap aktif. Membaca, berdiskusi, menulis, mengikuti kajian, mempelajari keterampilan baru, dan berorganisasi merupakan bentuk stimulasi bagi otak. Semangat ini sejalan dengan wahyu pertama:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Kelima, jaga silaturahmi dan hubungan sosial. Keluarga, sahabat, jamaah, dan komunitas menjadi sumber dukungan. Organisasi juga bukan hanya ruang kaderisasi, tetapi tempat membangun solidaritas.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Keenam, kelola stres dengan cara yang sehat. Berolahraga, mengatur waktu, beristirahat, berbicara dengan orang terpercaya, serta memperkuat ibadah dapat membantu menghadapi tekanan kehidupan.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan bersama dukungan sosial dan bantuan profesional.
Ketujuh, jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan. Pemeriksaan berkala membantu mengenali risiko lebih awal. Tekanan darah, berat badan, kadar gula darah, dan faktor risiko lainnya perlu diperhatikan sejak muda.
Peran Pemuda Muhammadiyah
Pemuda Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam membangun budaya hidup sehat. Gerakan pemuda bukan hanya tentang kaderisasi, kepemimpinan, dan dakwah, tetapi juga tentang kualitas manusia yang menjalankannya.
Pertama, menjadi teladan hidup sehat. Kedua, menggerakkan literasi kesehatan melalui pengajian, media sosial, masjid, dan kegiatan organisasi. Ketiga, mengembangkan kegiatan promotif dan preventif seperti olahraga bersama, pemeriksaan kesehatan, donor darah, dan edukasi gizi. Keempat, memperhatikan kesehatan orang tua dan lansia agar tetap aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Kelima, membangun lingkungan yang mendukung kesehatan di keluarga, masjid, dan organisasi.
Semangat ini sejalan dengan firman Allah SWT:
“…dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Sehat sebagai Amanah dan Jalan Pengabdian
Menjaga kesehatan bukan sekadar kepentingan pribadi. Tubuh yang sehat memungkinkan kita belajar, bekerja, beribadah, mengurus keluarga, berorganisasi, dan memberikan manfaat.
Karena itu, jangan menunggu tua untuk mulai menjaga kesehatan. Mulailah hari ini: lebih banyak bergerak, makan lebih baik, tidur cukup, terus belajar, menjaga silaturahmi, mengelola stres, dan memeriksakan kesehatan secara berkala.
Kita tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin. Kita sedang mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan yang panjang dengan tetap mampu beribadah, berkarya, mengabdi, dan memberi manfaat.
Pada akhirnya, umur panjang bukan hanya tentang berapa banyak tahun yang kita miliki, tetapi seberapa sehat, mandiri, produktif, dan bermanfaat kita menjalani setiap tahun yang Allah SWT berikan