A.R. Fachruddin: Saat Kritik disampaikan dengan Kesantunan

Inspirasi Tokoh

Indonesia di masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto memiliki corak yang khas dalam pola kepemimpinannya. Hal ini salah satunya terletak pada peran dominasi militer dalam struktur negara, serta upaya untuk menjaga stabilitas politik melalui kontrol ketat terhadap pihak oposisi. Stabilitas ini dijustifikasi sebagai prasyarat utama bagi pembangunan ekonomi nasional yang berorientasi pada pertumbuhan.

Peran Muhammadiyah dalam Orde Baru

Muhammadiyah menempuh strategi komunikasi yang cerdas agar tetap mampu menyuarakan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan tanpa harus berhadap-hadapan secara langsung dengan kekuasaan negara. Dalam konteks inilah, kehadiran seorang komunikator yang mampu menjembatani kepentingan umat dan negara menjadi sangat krusial. KH. Abdur Razaq Fachrudin—yang lebih dikenal sebagai AR Fachruddin—muncul sebagai figur sentral yang menjalankan peran tersebut dengan elegan sekaligus efektif.

 Mengenal A.R. Fachruddin

AR Fachruddin lahir di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan dengan tradisi keraton Jawa. Ayahnya, KH. Fachruddin atau dikenal pula sebagai KH. Imam Puro, adalah seorang lurah naib (penghulu) di lingkungan Keraton Pakualaman.

Sejak kecil, AR Fachruddin tidak hanya dididik dalam ilmu-ilmu keIslaman dan syariat, tetapi juga diajarkan nilai-nilai budaya Jawa, khususnya unggah-ungguh, tata krama, dan etika ningrat.

Perpaduan antara kedalaman agama dan kearifan budaya Jawa inilah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan AR Fachruddin: sederhana, bersahaja, tetapi berwibawa. Sebagai orang Jawa tulen, ia memahami betul psikologi kekuasaan Jawa yang menekankan harmoni, simbol, dan komunikasi tidak langsung.

Kedekatan Pak A.R.  dengan Soeharto

Kedekatan A.R. Fachruddin dengan Presiden Soeharto tidak dapat dilepaskan dari kemampuannya membaca situasi dan menempatkan diri secara tepat. Ia dikenal mampu memilih waktu, bahasa, dan suasana yang sesuai ketika menyampaikan pandangan kepada penguasa.

Bahasa yang digunakan selalu halus, penuh sopan santun, serta menjunjung tinggi etika, tanpa kehilangan substansi pesan yang ingin disampaikan. Dalam konteks politik Orde Baru, pendekatan ini dapat dikategorikan sebagai high politics, yakni politik bernilai tinggi yang mengedepankan moral, etika, dan kepentingan jangka panjang bangsa. Karena sikap inilah AR Fachruddin dihormati tidak hanya oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga oleh pusat kekuasaan Orde Baru.

Hubungan baik antara AR Fachruddin dan Soeharto terjaga hingga akhir hayat, bahkan Soeharto secara langsung melayat ke kediaman AR Fachruddin ketika beliau wafat, sebuah gestur yang jarang dilakukan kepada tokoh masyarakat sipil.

Kritik yang disampaikan dengan Kesantunan

Dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, AR Fachruddin tidak pernah menggunakan konfrontasi terbuka. Ia memilih pendekatan kultural dengan memanfaatkan unggah-ungguh dan etika Jawa, sehingga kritik yang disampaikan tidak melukai perasaan maupun harga diri Presiden Soeharto.

Salah satu kisah yang sering dirujuk dalam berbagai sumber adalah keberanian AR Fachruddin menyarankan Soeharto untuk mundur dari jabatan presiden. Nasihat tersebut disampaikan secara pribadi dan halus, bahkan dilakukan hingga tiga kali dalam kesempatan yang berbeda, tanpa menimbulkan kemarahan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa komunikasi yang berlandaskan etika, ketulusan, dan kejujuran moral dapat menjadi sarana kritik yang efektif, bahkan dalam sistem kekuasaan yang otoriter. A.R. Fachruddin dengan demikian menjadi teladan kepemimpinan moral dan komunikasi politik yang santun dalam sejarah Indonesia.

Nurul Wijaksono, Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *