Bagaimana Bahagia yang Sesungguhnya Menurut Islam ?

Risalah Islam

Setiap manusia pasti ingin bahagia. Hanya saja, definisi bahagia bagi setiap orang bisa berbeda-beda, bahkan seringkali kebahagiaan dikaitkan pada hal-hal duniawi saja seperti harta, jabatan, atau pencapaian tertentu. Lantas apakah kebahagiaan yang sesungguhnya ?

Bahagia Sejati

Padahal kebahagiaan yang sejati bukan sekedar kesenangan sementara, melainkan ketenangan hati yang mendalam. Dalam islam, kebahagiaan memiliki makna yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada kehidupan dunia saja.

Berbicara tentang bahagia, tentu erat kaitannya dengan ketenangan hati. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” [Ar-Ra’d: 28]

Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sejati bukan berasal dari materi, tetapi dari kedekatan dengan Allah. Orang-orang yang hatinya senantiasa terhubung dengan Allah akan merasakan ketenangan yang luar biasa dan tidak akan didapatkan dari hal-hal duniawi.

Bahagia dan Keimanan

Kebahagiaan sejati hadir dari hati yang dipenuhi keimanan, dari kesabaran di setiap ujian, dan syukur di setiap pemberian, sehingga melahirkan hubungan yang baik dengan Allah serta sesama manusia. Orang yang memiliki hati yang bersih dari penyakit iri, dengki, dan sombong akan lebih mudah merasakan bahagia.

Rasulullah juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan harta dan status sosial. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang yang memiliki hati lapang, tenang, dan senantiasa bersyukur akan merasa cukup dan bahagia, meskipun secara materi tidak berlimpah.

Bernilai Manfaat bagi Orang Lain

Bahkan islam juga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang memberi manfaat dan kontribusi kepada orang lain. Kebahagiaan yang didapat dari berbagi dan membantu sesama manusia justru lebih menenangkan dan bertahan lama dibandingkan dengan kebahagiaan yang hanya berpusat pada diri sendiri.

Lantas bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar menurut islam? Jawabannya adalah dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Selain itu juga menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan sabar, menerima segala takdir dengan lapang dada, dan senantiasa mengusahakan berbuat baik kepada sesama manusia juga menjadi kunci utama dalam mencapai ketenangan hati dan kebahagiaan yang hakiki.

Kekuatan Rasa Syukur

Sekali lagi, bahagia itu bukan tentang memiliki segalanya, namun tentang mensyukuri apa yang sudah ada. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya manusia diciptakan sebagai makhluk yang suka mengeluh.

Apabila hati tidak memiliki rasa syukur, maka jika diberi suatu nikmat, akan terus merasa kurang dan kurang. Bahkan jikapun kenikmatan tersebut terus bertambah, akan selalu ada hal-hal yang menjadi keinginan sehingga tidak pernah merasa cukup. Allah berfirman:

()إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا () إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا () وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (QS Al-Ma’arij: 19-21)

Jadi, bahagia dalam perspektif islam adalah tentang keadaan hati yang penuh dengan ketenangan, rasa syukur, dan ridha terhadap segala ketetapan Allah. Tidak tergantung dari seberapa banyak yang bisa kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menjalani hidup dengan penuh keikhlasan, ketaatan, dan kebermanfaatan.

Semoga kita semua bisa meraih kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bishshawab.

____

Oleh: Rahma Zuhrotul Aisyah (Muhafidzah Ponpes Ibnu Juraimi Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *