Tantangan Islam di Era Kontemporer Dalam Perspektif Syekh An – Nadwi

Risalah Islam

Meminjam narasi dalam hadis Ibnu Majah dari Anas bin Malik, bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing pula. Maka tak heran bilamana ada orang yang merasa asing dengan ajaran Islam atau syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada orang yang ngakunya Islam akan tetapi ia tidak paham dengan syariat Islam yang sesungguhnya. Di era modern ini tantangan Islam sangat berat terutama pada hal yang mengacaukan akidah. Problem ini kemudian direspon oleh para cendekiawan muslim, salah satunya Syekh Abul Hasan Ali An-Nadwi.

Syekh Abul Hasan Ali An – Nadwi

Nama beliau ialah Ali dan gelarnya adalah Abu Al – Hasan dan ayahnya ‘Abd al – Hayy bin Fakhruddin bin ‘Abd Ali al – Hasani. Naabnya sampai kepada Abdullah al – Asytar dan seterusnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.

Menurut Syekh Abul Hasan Ali An – Nadwi tantangan Islam di era modern lebih berat daripada era sebelumnya, jika ujian umat Islam dimasa terdahulu adalah ancaman berupa fisik yang terlihat wujud ujiannya. Sedangkan di era modern dalam bentuk pemikiran yang tidak bisa diraba dilihat dan dirasakan oleh mata dan pikiran yang telanjang tanpa pengetahuan yang benar.

Syekh Abul Hasan Ali An – Nadwi adalah seorang pemikir Islam yang mengharumkan Islam di tanah Hindustan yang dikenal sebagai tempat agama Hindu. Beliau mampu melahirkan cendekiawan muslim seluruh dunia tidak hanya di India saja.

Karya Syekh Abul Hasan Ali An-Nadwi

Banyak karya – karya beliau yang sudah di hasilkan ada sekitar 60 tulisan yang sudah dibukukan, diantaranya adalah kitab yang berjudul Madha Khasfral ‘Alam Bi Inhithat al-Muslimin (Apakah Derita yang Melanda Dunia Bila Umat Islam Mundur) sebuah karya yang mengejutkan dunia, di umur 18 tahun beliau sudah mampu melahirkan karya yang luar biasa. Karya beliau dalam bahasa Arab diterbitkan oleh Syekh Sayyid Rasyid Ridha di Mesir pada tahun 1950.

Dalam salah satu tulisan yang beliau tulis menyebutkan bahwa di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapi dengan ancaman kemurtadan yang juga telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah. Filsafat materialistik Barat ini tidak diragukan lagi adalah “Agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam. Ia adalah agama terbesar dipandang dari sudut keluasaan bidangnya, agama yang paling mendalam dipandang dari sudut kedalaman tancapan akarnya. Pemahaman seperti ini dan pemurtadan pada masa sekarang gencar menyerang dari rumah ke rumah, dari sekolah ke sekolah dan dari keluarga ke keluarga.

Tulisan syekh An – Nadwi patut untuk direnungkan peringatan dini ini perlu mendapatkan perhatian dari umat Islam. Di masa lampau menurut beliau ujian hanya berupa ancaman fisik , kaum muslimin dipaksa meninggalkan agama disertai dengan ancama fisik seperti para sahabat Rasulullah.

Tantangan islam di era kontemporer

Pada era kontemporer  Syaikh An – Nadwi menjelaskan tantangan iman datang dalam bentuk yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kaum muslimin dipaksa menelan  ide – ide Barat dengan paham – paham sekuler, liberal dan materialistik yang bertentangan dengan paham Islam. Paham yang menyesatkan dan dapat menghancurkan keimanan seseorang.

Peradaban Barat modern merupakan peradaban yang mengusung paham relativisme kebenaran. Dalam istilah ini Prof. Naquib Al – Attas menyebutkan bahwa dalam dunia modern manusia telah dijadikan Tuhan dan Tuhan dijadikan manusia (deity humanized man is deified). Dunia peradaban modern Barat memiliki sifat asasi yang tidak bersahabat dengan agama atau istilahnya disebut dengan “irreligious in its very essence”.

Kita ambil contoh lain ada sebuah pernyataan yang menyatakan “ini masalah politik jangan dibawa ke ranah agama”, ungkapan demikian tidaklah tepat bagi seorang muslim. Sebab bagi seorang muslim agama tidak akan pernah lepas dari dirinya, akan selalu melekat kapanpun dan dimanapun, bahkan melakukan hal kecilpun melibatkan agama semisal ke toilet ada adab dalam masuk toilet apalagi hal yang besar harus tetap berpegang teguh pada aturan agama.

Islam dan tantangan Ghazwul fikr

Hari ini musuh-musuh Islam menyerang Islam tidak lagi menggunakan senjata dan berhadap-hadapan (face to face) melainkan menggunakan pemikiran. Istilah ini biasa kita kenal dengan ghazwul fikr yaitu perang pemikiran yang merupakan strategi terbaru untuk menyerang islam.

Sebagai contoh keilmuan barat, beberapa paham menolak keberadaan Tuhan seperti dalam keilmuan dibidang politik yang menjadikan Machiavelli sebagai tokohnya. Dalam buku Powerful ideas : Perspektives on the Good Society (2002) yang menghimpun gagasan – gagasan pemikiran besar dalam sejarah umat manusia memasukkan nama Nicolo Machiavelli sebagai salah satu pemikir besar dalam politik. Karyanya The Prince dianggap memiliki nilai yang tinggi dan memiliki pengaruh besar dalam social politik manusia dan menempatkan karya Machiavelli sebagai salah satu karya besar dalam sejarah umat manusia yang muncul di zaman renaissance. Dalam karyanya tersebut Machiavelli mengajak penguasa untuk berpikir praktis demi mempertahankan kekuasaan, dan melepaskan nilai – nilai moral yang justru dapat menjatuhkan kekuasaanya.

Politik semacam ini sangatlah melampaui nilai – nilai moral keagamaan, dengan membuang faktor baik dan buruk dalam kancah politik. Machiavelli memberikan saran bahwa seorang penguasa boleh melakukan segala macam cara untuk menyelamatkan Negara terlepas dari batasan baik dan buruk. Pemikiran Machiavelli ini menurut Marvin Perry merupakan usaha melepaskan pemikiran politik dari kerangka agama dan meletakkan politik semata – mata urusan ilmuwan politik.

Sementara dalam pandangan Islam, kaum musim menempatkan politik sebagai aktivitas ibadah. Karena itu nilai – nilai agama harus selalu dipegang oleh para politikus muslim. Karena kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari politik tersebut, akan tetapi ibadah kepada Allah Taala adalah tujuan akhir. Maka narasi yang dibangun adalah “politik untuk ibadah” bukan “politik untuk politik” begitu juga dengan disiplin ilmu yang lain.

Oleh :Nurul Wijaksono (Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *