Benarkah Dakwah Islam Itu Eksklusif ?

Risalah Islam

Banyak yang mengira kalau dakwah Nabi Muhammad itu eksklusif buat kelompok tertentu, apalagi di masa-masa awal dakwah beliau. Tapi bener nggak sih? Kalau kita lihat lebih dalam, sebenernya islam itu untuk semua orang, hanya saja cara penyampaiannya aja yang bertahap agar lebih efektif.

Dakwah Bertahap: Dari Sempit ke Luas

Waktu pertama kali diangkat jadi nabi, Nabi Muhammad memulai dakwahnya scecara diam-diam selama kurang lebih 3 tahun. Beliau hanya mengajak orang-orang terdekatnya yang beliau percaya akan menerima islam, seperti Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan beberapa sahabat yang lain. Tujuannya agar islam memiliki pondasi yang kuat sebelum akhirnya diumumkan ke publik.

Setelah itu, Allah memerintahkan nabi untuk dakwah secara terang-terangan, seperti dalam firman-Nya:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (Al-Hijr:94).

Dari sini, beliau mulai mengajak masyarakat Quraisy, termasuk pemimpin mereka. Walaupun banyak yang menolak, tapi ini membuktikan bahwa islam tidak hanya untuk segelintir orang ataupun untuk kalangan tertentu, tapi buat semua manusia.

Islam untuk Semua Kalangan

Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang diutus hanya untuk kaum tertentu, Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Bukti nyata dari universalitas dakwah Nabi adalah bagaimana beliau mengajak berbagai kalangan tanpa membeda-bedakan status sosial.

Beliau membimbing para budak seperti Bilal bin Rabah, berdialog dengan orang miskin, serta menerima orang non-Arab seperti Salman Al Farisi. Bahkan, Nabi juga menjalin komunikasi dengan para pemimpin dari berbagai suku dan agama.

Tidak Ada Paksaan dalam Islam

Meskipun islam terbuka untuk semua orang, Nabi Muhammad tidak pernah memaksa siapapun untuk masuk islam. Dalam QS. Al-Baqarah: 256, Allah menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Hal ini senantiasa diterapkan oleh Nabi, sehingga setiap orang yang menerima islam melakukannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, bukan karena tekanan.

Namun, tetap ada kelompok yang dengan sengaja menolak islam, seperti para pemuka Quraisy yang tetap menantang meskipun telat melihat kebenaran ajaran islam yang nyata. Dalam hal ini, bukan islam yang eksklusif, tetapi hati mereka sendiri yang tertutup dari hidayah sehingga enggan menerima kebenaran.

Eksklusivitas dalam dakwah Nabi hanyalah strategi awal untuk membangun fondasi yang kuat dalam dakwah. Seiring berjalannya waktu, dakwah islam berkembang menjadi ajaran yang universal, dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial maupun etnis.

Dakwah Islam itu Inklusif

Dengan pendekatan dakwah yang penuh hikmah dan tanpa paksaan, dakwah Nabi Muhammad membuktikan bahwa islam bukanlah agama yang eksklusif untuk golongan tertentu, melainkan rahmat bagi seluruh alam. Penyebaran agama islam yang berlangsung dari zaman Rasulullah hingga saat ini menjadi bukti nyata bahwa islam adalah ajaran yang bersifat inklusif dan relevan untuk semua manusia.

Karenanya, sebagai ummat islam kita pun dituntut untuk meneladani cara dakwah Nabi yang penuh hikmah dan kasih sayang, tanpa diskriminasi, dan mengedepankan hikmah. Dakwah di masa sekarang seharusnya mengajak dengan keteladanan dan pendekatan yang baik dan bijak.

Bukan dengan kekerasan atau cara-cara yang memecah belah dan memaksa. Semangat islam yang universal harus terus dihidupkan agar ajaran islam ini benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab.

____

Penulis: M. Amien Mujaddid, Wakil ketua bidang ekonomi dan kewirausahaan PDPM Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *