Temuwuh, 13 September 2025 — Aroma manis dari dapur praktik tiba-tiba menyelimuti Desa Temuwuh, Kecamatan Dlingo, Bantul pada Sabtu pagi. Bukan dari hajatan warga, melainkan dari kegiatan unik yang digelar BEM Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Program Penguatan Kapasitas Ormawa (PPK Ormawa). Alih-alih ceramah teori, mereka menghadirkan kelas praktikum nyata tentang pengolahan pangan lokal yang inovatif.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Program Penguatan Kapasitas Ormawa yang diajukan oleh BEM Psikologi UAD, sebagai salah satu upaya pemberdayaan perempuan di Desa Temuwuh.
Program Poetri Mardika
Salah satunya adalah program “Poetri Mardika: Sekolah Berbasis Life Well-Being untuk Mewujudkan Perempuan Bermental Tangguh, Mandiri Ekonomi, dan Cerdas Berkeluarga”. Program ini bertujuan salah satunya memperkenalkan keterampilan pengolahan hasil pertanian lokal sebagai alternatif penghasilan.
Jagung dan terong dipilih bukan tanpa alasan: jagung merupakan salah satu hasil pertanian melimpah di Temuwuh, sementara terong selama ini hanya diperdagangkan sebagai sayuran mentah dengan margin keuntungan yang tipis. Dengan inovasi pengolahan, diharapkan produk jadi tidak saja bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang usaha lokal.
Pra-Praktik: Pengukuran Pengetahuan dan Harapan
Kelas dibuka dengan pre-test sederhana untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta terkait pengolahan pangan lokal. Diketahui saat pemateri menanyakan apakah peserta pernah membuat dodol dari terong atau camilan cornribs dari jagung sebelumnya. Kompak, hampir semua menjawab, “Beluumm”. Jawaban singkat itu sekaligus menunjukkan bahwa program ini sangat tepat sasaran: ada kebutuhan nyata dan ruang belajar yang besar di kalangan ibu-ibu desa.
Sebelum praktik manual, pemateri memberikan materi teoretis tentang diversifikasi. Yaitu, membuat atau mengembangkan produk/usaha lain agar tidak hanya bergantung pada satu jenis. Paparan peluang pasar juga disampaikan: camilan inovatif dan makanan ringan yang unik kini makin diminati, terutama di kota-kota dan lewat media sosial.
Pembuatan dodol terong
Pembuatan dodol terong yang dijelasan oleh fasilitator mengenai bahan-bahan saja yang digunakan, bagaimana terong dikukus dan dihaluskan sebelum dicampur dengan bahan lain di wajan, dll. Selanjutnya tahapan pencampuran gula, santan, serta bahan pengental seperti tepung ketan dan beras dilakukan sambil terus diaduk agar tekstur dodol menjadi kenyal.
Kemudian juga membuat cornribs. Ibu-ibu sibuk menakar ukuran iris jagung agar tiap potongan bisa melengkung atau bergelombang saat digoreng, agar tampilannya menarik seperti tulang iga (ribs). Teknik penggorengan juga dibahas, misalnya suhu minyak dan waktu penggorengan agar bisa melengkung tapi tidak terlalu kering dan tetap juicy.
Sesi praktik ditutup dengan saling bertukar hasil masakan dari masing-masing kelompok dodol terong dan cornribs, menciptakan suasana yang ceria dan hangat untuk bisa saling berbagi hasil belajar peserta.
Uji Coba Pengetahuan dan Dampak
Setelah sesi praktikum peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman dan keterampilan. Terlihat adalah rasa percaya diri. Seorang ibu dari kelompok dodol terong berseru, “Wah ini nanti saya coba pas arisan Mas!” ketika tampak sudah memahami proses pembuatan dodol terong . Sementara ibu-ibu pembuat cornribs berbicara soal kemungkinan membuka jualan “belum pernah ada di sini mas” ungkapan salah satu peserta , menjadikan cornribs bukan hanya camilan, tetapi peluang usaha ekonomi kreatif.
Harapan jangka panjang
Kegiatan Dodol Terong & Cornribs ini bukan sekadar kelas praktik: ia bagian dari strategi lebih besar agar perempuan Desa Temuwuh menjadi mandiri secara ekonomi. Sejalan dengan tujuan Poetri Mardika yang dicetuskan oleh BEM Psikologi UAD lewat PPK Ormawa.
Kedepan, potensi untuk menjadikan cornribs atau dodol terong sebagai produk lokal unggulan tampak nyata. Bila dikemas baik dengan kemasan menarik, label halal, rasa yang konsisten sehingga produk tersebut bisa mencapai pasar yang lebih luas, misalnya kios camilan di kota, festival pangan, pasar digital.
Para mahasiswa penyelenggara juga berharap agar dukungan terhadap regenerasi terus ada: transfer ilmu tidak berhenti pada sekali pelatihan; ada pendampingan secara berkelanjutan dari kampus atau lembaga pendukung agar usaha kecil ini terus tumbuh.
____
Shela Adesti Sofyanta & Badi Musaid, Mahasiswa Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta