Tujuan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Kewajiban seorang muslim adalah menghambakan diri kepada sang Khalik pencipta alam semesta. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah untuk menjalani hidup dengan penuh kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Prinsip dasar dari pelayanan adalah memberikan layanan terbaik sehingga orang yang dilayani merasa puas. Begitu juga dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah; dalam beribadah, kita tidak boleh asal-asalan. Setiap amal ibadah harus dilaksanakan dengan mengikuti pedoman yang telah ditentukan, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah makbullah.
Ibadah yang kita lakukan haruslah menjadi bentuk pelayanan terbaik kepada-Nya, baik yang berkaitan langsung dengan Allah (Habluminallah) maupun yang melibatkan interaksi dengan sesama manusia (Habluminannas).
Inti dari ajaran Islam adalah mentauhidkan Allah, mengesakan-Nya sebagai Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, mempelajari akidah yang benar dan memahami hakikat ketauhidan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Inilah dasar yang harus kita pegang teguh agar kehidupan kita berada dalam keridhaan-Nya.
Apa itu Aqidah?
Aqidah ibarat pondasi dalam sebuah bangunan; semakin kokoh pondasi, semakin kuat bangunan tersebut. Sebaliknya, jika pondasi lemah, bangunan mudah runtuh.
Secara etimologi, aqidah berasal dari kata ‘qada-ya’qudu-‘aqadan’ yang berarti simpul, ikatan, atau perjanjian yang kokoh. Dalam konteks ini, aqidah berarti keyakinan yang kuat.
Untuk memahaminya lebih lanjut, ilmu terbagi menjadi dua: ilmu dharuri dan ilmu nadzari. Ilmu dharuri diperoleh langsung dari indera, tanpa perlu penjelasan mendalam, sedangkan ilmu nadzari memerlukan dalil atau penjelasan lebih lanjut.
Perlukah Akidah Diperdebatkan?
Akidah itu ibarat tali putih yang jelas di depan mata. Kita tidak butuh bukti rumit untuk meyakininya, karena ia sudah nyata adanya. Berbeda dengan ilmu yang bersifat teoritis, seperti pengetahuan tentang bentuk bumi, yang memerlukan dalil dan penelitian agar bisa dipahami sebagian orang.
Ada pula kebenaran sederhana yang tak perlu lagi dibuktikan, misalnya “sebagian lebih sedikit daripada keseluruhan.” Semua orang sudah mafhum tanpa perlu argumen panjang. Inilah yang disebut badihiyah.
Begitu juga akidah. Ia merupakan dasar keyakinan, terang benderang, dan tidak pantas dijadikan bahan perdebatan. Karena memperdebatkan akidah justru bisa melahirkan keraguan, padahal ia mestinya menjadi pegangan paling kokoh dalam hidup seorang Muslim.
Mengakui Tuhan adalah Fitrah
Sejatinya, setiap manusia lahir dengan fitrah untuk mengakui kebenaran, termasuk mengakui adanya Tuhan. Fitrah itu dibekali dengan indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menimbang dan mengujinya, serta wahyu sebagai pedoman yang menuntun pada kebenaran sejati.
Dengan akal dan inderanya, manusia sebenarnya mampu memahami adanya Tuhan. Namun, hanya wahyulah yang menyingkap siapa Tuhan yang sebenarnya layak disembah.
Di sinilah letak pentingnya akidah. Ia tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi juga sumber ketenangan jiwa. Akidah yang kokoh melahirkan hati yang mantap, sehingga ketika seseorang telah meyakini kebenaran, ia akan menolak segala hal yang bertentangan dengan keyakinannya.
Posisi Iman dan Akidah
Ada beberapa istilah yang senada dengan aqidah diantaranya adalah Iman walau beberapa ulama memperselisihkan hal tersebut akan tetapi pada dasarnya ketika menempatkan makna iman sebagai percaya, dan yakin maka hal tersebut senada dengan aqidah.
Makna lain yaitu Tauhid yang memiliki arti mengesakan Allah, hal ini yang menjadi central dan pokok ajaran agama Islam. Istilah lainnya yaitu ushuluddin yang bermakna pokok-pokok ajaran agama, Ilmu kalam dan fikih akbar.
Fungsi Akidah
Adapun fungsi daripada aqidah adalah sebagai pondasi dalam beragama. Ajaran agama Islam secara sistematika dibagi menjadi aqidah, Ibadah, akhlak dan muamalat. Sistematika tersebut saling berkaitan dan terikat satu sama lainnya.
Jika seseorang memiliki aqidah yang baik maka ibadahnya akan tertib dan baik, memiliki akhlak yang ahsan pula serta muamalah denga sesama manusia akan baik juga. Ibadah seseorang tidak akan diterima Allah Ta’ala jika tidak dilandasi dengan aqidah.
Seseorang tidak akan disematkan akhlak mulia jika tidak memiliki aqidah yang benar dan begitu seterusnya antara satu dengan yang lain saling berkaitan dan memiliki dampak yang besar.
Hal ini jga sama halnya dengan hati segumpal darah ini baik maka akan baik pula yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila hati ini buruk maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW berdakwah selama 13 tahun di Makkah dan memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang kokoh dan benar.
____
Nurul Wijaksono, Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta