Perbaikan pemetaan kader
Ketua Departemen Organisasi PCNA Kotagede dalam sarsehan tersebut menyampaikan refleksi alur kaderisasi di tingkat cabang. Ia menjelaskan pentingnya pemetaan alur perkaderan yang jelas dan terhubung antara struktur cabang dan ranting, agar proses pembinaan berjalan lebih sistematis dan berkesinambungan.
Salah satu tantangan yang disorot adalah masih adanya wilayah di Kotagede yang aktif di tingkat cabang, namun belum memiliki struktur ortom di tingkat ranting secara fungsional. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi ortom untuk bersama-sama memperkuat basis kaderisasi di Tingkat ranting.
Sebagai solusi, ia mendorong terwujudnya sinergi antara ortom cabang dan pimpinan ranting Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah, agar proses kaderisasi dapat dilakukan secara kolaboratif melalui pendampingan, fasilitasi kegiatan, dan penguatan komunikasi lintas struktur.
Integrasi pendekatan kultural
Sesi berikutnya diisi oleh perwakilan dari PRM Alun-Alun Utara yang membagikan pengalaman praktik baik dalam pengelolaan kaderisasi di tingkat ranting. Mereka menjelaskan bagaimana ranting dapat dikelola sebagai ruang yang inklusif dan ramah bagi kader muda, tanpa mengabaikan kekuatan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah.
Pendekatan yang mereka terapkan mengintegrasikan aspek ideologis, sosial, dan kekeluargaan secara seimbang. Ranting tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan program organisasi, tetapi juga menjadi ekosistem belajar yang mendorong partisipasi aktif, pembinaan yang berkelanjutan, serta relasi yang hangat antaranggota.
Pendekatan ini memungkinkan kader dengan latar belakang dan tingkat pengalaman yang beragam untuk merasa diterima, dihargai, dan didorong untuk berkembang secara bertahap. Pengalaman tersebut menjadi contoh konkret bagaimana ranting dapat memainkan peran strategis dalam memastikan kesinambungan kaderisasi yang bersifat mendidik, membina, dan memandirikan.
Penguatan kaderisasi melalui FGD
Sebagai bagian penutup dari rangkaian kegiatan, para peserta terlibat aktif dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) yang dibagi berdasarkan ranting asal masing-masing. Forum ini dirancang sebagai ruang partisipatif bagi setiap ranting untuk melakukan identifikasi terhadap potensi, tantangan, serta merumuskan strategi konkret dalam penguatan kaderisasi di tingkat lokal. Diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan beragam pengalaman dan pendekatan yang telah dijalankan oleh masing-masing ranting.
Hasil FGD diharapkan menjadi bahan rujukan awal dalam menyusun arah strategi perkaderan yang lebih relevan dengan kebutuhan masing-masing ranting dan tetap sejalan dengan prinsip-prinsip Persyarikatan.
Kegiatan sarasehan merupakan penegasan bersama mengenai pentingnya menguatkan orientasi perkaderan di lingkungan Muhammadiyah, khususnya di tingkat ranting. Para peserta menyadari bahwa kaderisasi tidak cukup dipahami sebagai rutinitas organisasi atau kewajiban administratif belaka, tetapi harus menjadi gerakan yang hidup—mampu menjawab kebutuhan zaman, berakar pada nilai-nilai ideologis, dan memberi dampak nyata bagi lingkungan sosial.
Sarasehan ini menjadi ruang awal untuk membangun kesadaran kolektif, memperkuat jejaring antar-ranting, serta menumbuhkan semangat kolaboratif dalam merancang strategi kaderisasi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Meskipun masih dalam skala lokal, langkah ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjang dakwah Persyarikatan, yang memerlukan komitmen, konsistensi, dan keterlibatan lintas generasi di setiap level gerakan.