Sudahkah Kita Bersyukur Menjadi Seorang Muslim ?

Risalah Islam

Pernahkah dalam diri kita terbesit pertanyaan, sudahkah selama ini merasakan Islam sebagai nikmat yang patut disyukuri?. Apakah kita bangga menjadi seorang muslim ?Dalam sebuah ayat Allah menegaskan bahwa umat islam adalah umat terbaik.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Ali ‘Imran [3]: 110).

Realita identitas muslim

Ayat tadi memunculkan pertanyaan atas realita sebagian kalangan yang belum percaya diri menyandang identitas sebagai muslim.

Alih-alih bangga dengan identitas  muslimnya, terdapat kondisi seseorang yang bangga dengan gaya hidup barat dan menjadikannya tolak ukur dan tingkat standarisasi gaya hidup. Mereka menganggap gaya seorang muslim merupakan gaya yang konservatif, kuno yang ketinggalan jaman. Namun benarkah demikian ?.

Islam dan keselamatan

Padahal Islam adalah ajaran yang menggembirakan, ajaran yang menyelamatkan ajaran yang menghantarkan pada kebahagian lahiriyyah dan batiniyyah. Islam menjaga umatnya sesuatu yang menimbulkan banyak kemudharatannya. Contoh, Islam mengatur cara berpakaian bagi kaum perempuan dengan batasan – batasan tertentu dan diwajibkan untuk menutup aurat.

Upaya tersebut sebagai bentuk memuliakan dan mengangkat harkat martabat perempuan. Hal ini bertolak belakang dengan orang yang menganut paham feminisme barat yang menganggap bahwa tidakan tersebut merupakan pembatasan hak perempuan tidak memberikan kebebasan terhadap perempuan.

Memahami Islamic world view

Pentingnya memahami Islamic World View mampu menghindarkan kita dari  pemahaman-pemahaman yang merusak. Islam pernah berada pada masa puncaknya, tidak sedikit ilmuwan dan cedekiawaan lahir dari rahim Islam. Banyak karya fenomenal yang ditorehkan para ilmuwan muslim, baik di bidang agama maupun di bidang umum.

Kita sebagai muslim harus bangga dan bersyukur karena telah menjadi seorang muslim. Lantas bagaimana jika ada pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita ragu ?. Maka setidaknya ada empat hal yang dapat menguatkan dan meneguhkan kita kepada Islam.

Penamaan islam

Dari segi nama, makna Islam sendiri yang digambarkan oleh Nabi dalam sebuah hadis yang dikutip dalam kitab ‘Arba’in an – Nawawi menyebutkan definisi Islam adalah bahwasanya engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shoum Ramadan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau berkemampuan melaksanakanya.

Agama Islam secara khusus disebutkan dalam kitab Al-Quran beda dengan agama yang lain penamaanya diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia. Banyak cendekiawan barat yang berusaha untuk mereduksi atau mendekontruksi makna dan konsep Islam. Diantaranya sebagai satu sistem kegamaan (organized religion) dengan sebutan lain misal Muhammedanism, Muhammedan Law, Arabism akan selalu gagal karena nama “Islam” tidak bisa digoyahkan atau digantikan dengan nama lain.

Meyakini Islam agama final

Islam merupakan agama yang final, ajaranya bersifat final dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman, pergantian tempat dan budaya. Tidak ada perubahan tata cara sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Dimanapun tempat tatacra ibadahnya akan sama.

Dalam konsep teologi syahadat Islam tidak berubah, Islam tidak mengenal perkembangan pada teologi semisal teologi ekslusif, inklusif dan pluralis.sebab, konsep Islam merupakan konsep berdasarkan wahyu. Islam pun bukan agama sejarah (historical religion) yang konsepnya dan ritualnya berkembang mengikuti perkembangan sejarah.

Sepanjang zaman Tuhan tidak berubah, Allah telah menurunkan nabi terakhir untuk menyembah kepada-Nya dengan cara tidak tunduk pada perubahan zaman dan budaya.

Islam bukanlah agama budaya (cultural religion), sebab Islam tidak meletakan budaya pada hal yang fundamental. Islam tetap memerhatikan aspek budaya dalam pelaksanaan ajaran-ajaran Islam.

Dalam istilah Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, pakar Pendidikan dan pemikiran Islam, ajaran – ajaran Islam bersifat “dynamic stabilism”. Ada ajaran – ajaran yang tetap dan ada yang berubah, yakni hal – hal yang bersifat ijtihadiyyah furu’iyyah dan teatap abadi.

Islam memiliki teladan abadi

Islam memiliki model teladan yang abadi (uswatul hasanah), yaitu nabi Muhammad ﷺ sebagai “role mode” dan “model abadi”. Seluruh ucapan dan tindakan nabi Muhammad ﷺ menjadi contoh dan teladan bagi setiap muslim.

Karena Islam memiliki teladan final sepanjang zaman, sifat autentisitas dan universal Islam masih terpelihara hingga saat ini. eskipun zaman sudaah berubah ritual dan ajaran dalam Islam tidak berubah.

Dalam soal nama dan konsep Tuhan, sebagaimana konsep Islamic World View yang ditandai dengan karakteristiknya yang autentik dan final maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, juga bersifat autentik dan final. Hal itu disebabkan konsep Tuhan dalam Islam dirumuskan berdasarkan wahyu dan Al-Qur’an yang juga bersifat autentik dan final.

____

Nurul Wijaksono, Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *