Ramadan sudah berlalu, bulan yang penuh dengan kebaikan dan keistimewaan kini sudah pergi. Sebagai seorang muslim kita merasa bahagia karena sudah menjalankan yang Allah ﷻ perintahkan. Namun disisi lain kita juga merasa sedih karena harus berpisah dengan bulan Ramadan bulan penuh ampunan.
Habit positif Ramadhan
Bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat bagi kaum muslimin untuk menempa diri dan membentuk habit yang baik. Dimulai dari bangun pagi untuk sahur, sebelum subuh sudah dipaksakan diri untuk sahur agar puasa pada siang harinya tidak begitu berat karena ada asupan energi yang masuk dalam tubuh dan juga meraih keberkahan di waktu sahur.
Kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaan, tadarus, kajian, ditambah dengan aktivitas produktif pada siang harinya dan diakhiri dengan shalat tarawih pada malam harinya. Habit tersebut adalah habit yang bagus dan baik untuk dipertahankan.
Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah habit tadi yang sudah dibagun selama satu bulan masih tetap terjaga? Atau bahkan sebaliknya? Bulan Ramadan usai kemudian kita merasa usai juga dengan habit yang sudah dibagun, ini menjadi refleksi kita bersama, menjadi perenungan mendalam bagi kita semua.
Fenomena Hamba Ramadhan
Goals dari ibadah puasa adalah menjadikan kaum mukmin menjadi orang yang bertakwa, meraih predikat takwa, menaikkan level keimanan kita, menjadikan kita sebagai insan yang lebih baik dari sebelumnya. Tetapi fenomena yang terjadi adalah tidak sedikit kaum muslimin mulai lalai manakala Ramadan telah usai.
Ketika dibulan Ramadan shalatnya rajin, tilawah al – qur’annya kenceng, shalat malamnya tidak pernah bolong. Lantas setelah Ramadan apakah masih tetap bertahan? Hal ini perlu menjadi refleksi bersama. Puasa tidaklah berakhir, Al-Qur’an tidak akan berlalu, Masjid tak akan pernah ditutup, waktu ijabah tak akan berhenti, & pahala tak akan pernah terputus walau Ramadan sudah berlalu.
Ibadah di bulan Ramadan semata-mata karena mengharap ridha dan rahmat Allah ﷻ, bukan yang lainnya. Maka jangan sampai kita melakukan ibadah karena bulan Ramadannya saja. Jangan sampai kita menjadi hamba Ramadan yang bersemangat beribadah hanya di bulan Ramadan, selepas Ramadan kita berhenti dari melakukan kebaikan – kebaikan yang sudah dibangun.
Seolah – olah ibadah shalat malam, tilawah al-Qur’an, sedekah dan ibadah lainnya itu dimiliki oleh bulan Ramadan saja sehingga di luar bulan Ramadan ibadah tersebut dilalaikan atau bahkan sampai berhenti.
Menjadi hamba Allah sejati
Lalu apa esensi dari Ramadan sesungguhnya jika hal demikian terjadi? Allahﷻ memerintahkan hambanya untuk istiqomah dalam beribadah sebagaimana disebutkan dalam berfirman-Nya.
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad ﷺ) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S Huud : 112)
Istiqomah memang berat bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi disebutkan bahwa nabi Muhammad ﷺ ketika menerima wahyu tentang istiqomah rambut beliau sampai beruban. Hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya menjaga keistiqomahan dalam berbagai aspek terutama dalam ibadah.
Allah ﷻ juga menyukai amalan yang istiqomah (continue) walaupun sedikit, hal ini segaiamana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim)
Menjaga intensitas ibadah
Berusaha menjaga ibadah pasca Ramadan dengan volume dan intensitas amalan tidak sepadat ketika bulan Ramadan jauh lebih baik dibandingan berhenti total, akan sayang manakala amalan ibadah yang sudah susah – susah dibangun kemudian tidak dijaga dengan baik dan pada akhirnya runtuh.
Dapat kita analogikan hal demikian dengan sebuah gambaran sederhana semisal ada seorang yang memulai dengan perniagaannya sudah satu bulan ia membangun bisnis tersebut dan berjalan dengan baik. Setiap harinya banyak pelanggan serta medapatkan keuntungan yang baik. Namun setelah bisnis tersebut berjalan dengan baik orang tersebut terlena dan lalai mempertahankan kualitas pelayananya, sehingga mengalami penurunan hasil.
Dalam kondisi demikian apa yang akan didapat oleh orang yang berbisnis tersebut? Hal ini juga bisa kita refleksikan dalam kita beramal dan beribadah pasca Ramadan.
Tempat kita berharap adalah kepada Allah ﷻ, jadi apapun kondisinya, waktunya, tempatnya kita beribadah semata-mata kita tujukan kepada Allah ﷻ. Sehingga ketika Ramadan telah usai kita tetap melakukan ibadah sebagaimana dilakukan pada bulan Ramadan walaupun dengan kadar yang berbeda.
____
Nurul Wijaksono, Anggota BPK PDPM Kota Yogyakarta