Penulis : Dr.Yessi Handriyani.M.Kes
Praktisi psikologi,Kesehatan & penulis buku
Bayangkan seorang perempuan berusia dua puluh delapan tahun. Ia tinggal di apartemen kecil di tengah kota besar, bekerja dari laptop, memesan makan lewat aplikasi, dan setiap malam menggulir layar ponselnya hingga matanya berat. Ia memiliki ratusan teman di media sosial. Ia membalas pesan dengan cepat, tertawa di kolom komentar, dan sesekali mengunggah foto yang mendapat banyak hati. Namun ketika lampu kamar dimatikan, ada satu perasaan yang selalu hadir—perasaan bahwa tidak ada satu pun orang yang benar-benar tahu ia sedang tidak baik-baik saja.
Perempuan itu bukan karakter fiksi. Ia adalah gambaran dari jutaan orang yang hidup di era paling “terhubung” dalam sejarah umat manusia, namun justru merasakan kesendirian yang paling dalam. Para ilmuwan menyebutnya loneliness epidemic—epidemi kesepian. Dan tidak seperti wabah penyakit yang bisa dilihat, diukur dengan termometer, atau diobati dengan antibiotik, wabah ini bekerja dalam senyap, di balik senyuman-senyuman yang diunggah setiap hari.
“Kesepian bukan soal berapa banyak orang di sekitarmu. Ia soal apakah ada yang benar-benar melihatmu.”
Dalam perspektif spiritual, Al-Qur’an sebenarnya telah lama mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak dimaksudkan untuk dijalani dalam keterasingan yang dingin, tetapi dalam relasi yang saling mengenal dan memaknai. Allah berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa relasi sosial bukan sekadar kebutuhan biologis atau psikologis, melainkan bagian dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri: li ta‘ārafū—agar kita saling mengenal secara mendalam. Kesepian yang meluas di zaman modern, dengan demikian, bukan hanya krisis psikologis, tetapi juga krisis makna dalam relasi kemanusiaan.
Pada tahun 2023, Surgeon General Amerika Serikat, Vivek Murthy, mengambil langkah yang tidak biasa: ia mengeluarkan advisory resmi tentang krisis kesepian, menyamakannya dengan ancaman kesehatan publik yang setara dengan obesitas dan rokok. Studi yang dikutipnya—yang dilakukan oleh Julianne Holt-Lunstad dari Brigham Young University—menemukan bahwa isolasi sosial meningkatkan risiko kematian dini hingga dua puluh enam persen. Bukan angka kecil. Bukan statistik yang bisa diabaikan sambil lalu.
Yang membuat fenomena ini semakin paradoks adalah konteksnya. Kita hidup di zaman ketika komunikasi tidak pernah semudah ini. Seseorang di Jakarta bisa berbicara langsung dengan temannya di Oslo dalam hitungan detik. Sebuah keluarga yang terpisah benua bisa makan malam bersama lewat layar. Namun data terus bercerita sebaliknya—survei Cigna pada 2023 menemukan bahwa 58 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengalami kesepian. Di United Kingdom, pemerintah bahkan membentuk jabatan Menteri Kesepian pada 2018, sesuatu yang hampir tidak pernah terbayangkan dalam sejarah modern.
Lalu apa yang salah? Para psikolog sosial mulai membedakan antara dua jenis koneksi: koneksi kuantitas dan koneksi kualitas. Media sosial berhasil memaksimalkan yang pertama secara luar biasa—tetapi justru mengikis yang kedua secara perlahan. Sebuah studi dari University of Pennsylvania yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menemukan bahwa pengurangan penggunaan media sosial secara signifikan menurunkan tingkat kesepian dan depresi pada mahasiswa. Bukan karena media sosial itu jahat, melainkan karena ia mengajarkan kita untuk menampilkan diri, bukan untuk menunjukkan diri yang sesungguhnya.
Ada sebuah konsep dalam psikologi yang disebut felt sense of belonging—perasaan bahwa kita sungguh-sungguh menjadi bagian dari sesuatu, bahwa kita dikenal dan diterima apa adanya. Ini berbeda dari sekadar “memiliki teman” atau “aktif di komunitas online.” Rasa memiliki yang tulus tumbuh dari percakapan-percakapan yang canggung, dari keberanian untuk menunjukkan sisi diri yang tidak sempurna, dari waktu yang dihabiskan bersama tanpa agenda apa pun. Dan semua itu membutuhkan satu hal yang paling langka di abad ini: kehadiran yang penuh.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa hati manusia menemukan ketenangan bukan hanya dalam koneksi sosial, tetapi juga dalam kedekatan spiritual dengan Tuhan. Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini memberi dimensi yang lebih dalam pada persoalan kesepian: manusia bukan hanya membutuhkan hubungan horizontal dengan sesama, tetapi juga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ketika salah satunya hilang, keseimbangan batin manusia pun terganggu.
Di Japan, fenomena hikikomori—penarikan diri total dari kehidupan sosial, kadang selama bertahun-tahun—telah menjadi krisis nasional yang diakui pemerintah. Di South Korea, tingkat bunuh diri pada anak muda yang hidup sendiri melonjak dalam satu dekade terakhir. Di Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang terus meningkat, dengan kesepian sebagai salah satu faktor risiko yang sering disebut dalam literatur klinis.
Namun epidemi ini bukan takdir. Ia adalah cermin dari pilihan-pilihan kolektif yang kita buat—tentang bagaimana kita merancang kota, bagaimana kita membangun teknologi, bagaimana kita mendefinisikan produktivitas, dan bagaimana kita memperlakukan kerentanan sebagai kelemahan alih-alih sebagai pintu menuju koneksi yang sejati. Psikoterapis Esther Perel pernah menulis bahwa kesepian bukan hanya absennya orang lain, tetapi absennya makna dalam hubungan yang ada.
Maka solusinya pun tidak sesederhana “kurangi main HP” atau “keluarlah lebih sering.” Ia membutuhkan perubahan yang lebih dalam—keberanian untuk hadir secara penuh di depan orang lain, untuk bertanya “kamu baik-baik saja?” dan sungguh-sungguh menunggu jawabannya. Ia membutuhkan kita untuk berhenti memperlakukan hubungan manusia sebagai sesuatu yang bisa dioptimalkan, dan mulai menerimanya sebagai sesuatu yang harus dipelihara dengan sabar, dengan waktu, dan dengan kesediaan untuk tidak selalu terlihat baik-baik saja.