Dr Fauzi Rochman, S.Pd.I., M.S.I
Akademisi dan Wakil Ketua Bidang Riset, Teknologi dan MSDM PDPM Kota Yogyakarta
Jutaan orang Indonesia rela berdesak-desakan di terminal, stasiun, dan gerbang tol hanyademi satu tujuan:PULANG !!.
Fenomena mudik bukan sekadar pergerakan massa, ia adalah cerminan kedalaman jiwa manusia yang merindukan akar.
Dalam kacamata psikologi sosial, mudik adalah ekspresi nyata dari apa yang oleh Abraham Maslow disebut sebagai sense of belonging yaitu kebutuhan manusia untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok yang bermakna. Kampung halaman bukan hanya koordinat geografis di peta. Ia adalah ruang psikologis tempat identitas seseorang pertama kali dibentuk dan juga tempat nama dipanggil tanpa embel-embel jabatan, tempat seseorang dikenal bukan karena pencapaian, melainkan karena dirinya sendiri.
Psikolog sosial menyebut fenomena ini sebagai social identity theory yaitu teori yang menjelaskan bagaimana manusia membentuk konsep diri berdasarkan kelompok sosialnya. Ketika seseorang hidup dan bekerja jauh dari kampung halaman, ia membangun identitas baru di kota. Namun ada lapisan identitas yang lebih dalam, lebih tua, dan lebih melekat: identitas sebagai anak kampung, cucu nenek, atau bagian dari komunitas yang telah ada jauh sebelum dirinya lahir. Mudik adalah ritual untuk menyentuh kembali lapisan identitas itu dan memastikan ia tidak terkubur oleh rutinitas urban.

Islam sejak lama telah menempatkan nilai silaturahim dengan menyambung kembali tali persaudaraan sebagai ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa silaturahim dapat memanjangkan umur dan melapangkan rezeki. Dalam perspektif ini, mudik yang dilakukan dengan niat menyambung silaturahim naik derajatnya menjadi sebuah amal yang bernilai spiritual, bukan sekadar kegiatan sosial tahunan. Setiap pelukan kepada orang tua, setiap salam kepada tetangga lama, dan setiap tawa yang pecah di meja makan keluarga, semuanya bernilai ibadah di sisi Allah.
“Mudik mengajarkan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari akarnya dan justru di situlah letak kekuatannya.”
Lebih jauh, psikologi sosial mengenal konsep collective memory yaitu ingatan bersama yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Mudik adalah momen ketika memori kolektif itu dihidupkan kembali. Saat berkumpul, keluarga bertukar cerita, menertawakan kenangan lama, dan merawat narasi bersama tentang siapa mereka. Proses ini secara psikologis berfungsi sebagai penyegaran identitas semacam “pengisian ulang” yang memberi seseorang keberanian untuk kembali menghadapi tekanan kehidupan modern.
Tidak mengherankan jika banyak orang yang telah mudik merasa lebih ringan, lebih stabil secara emosional, dan lebih siap menghadapi tantangan setelah pulang kampung. Penelitian dalam bidang psikologi positif menunjukkan bahwa rasa terhubung dengan keluarga dan komunitas adalah salah satu prediktor terkuat dari kesehatan mental dan kebahagiaan jangka panjang. Mudik, tanpa disadari, adalah terapi sosial yang telah dipraktikkan masyarakat Indonesia jauh sebelum psikologi modern mengenalnya sebagai konsep ilmiah.
Namun mudik juga tidak selalu berjalan mulus secara emosional. Ada rasa haru yang bercampur dengan rasa bersalah, bersalah karena selama ini jarang menelepon, jarang pulang, atau terlalu sibuk mengejar dunia. Ada pula tekanan sosial yang datang bersama pertanyaan-pertanyaan yang kerap terasa seperti ujian: soal pekerjaan, pernikahan, atau pencapaian hidup. Momen ini, jika dipahami dengan bijak, sebenarnya adalah undangan untuk berefleksi menimbang kembali prioritas hidup dan memastikan bahwa kesibukan tidak menjadi penghalang antara diri dan orang-orang yang paling berarti.
Pada akhirnya, mudik mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan pulang. Bukan hanya pulang ke tempat, tetapi pulang kepada diri sendiri, kepada nilai-nilai yang pernah ditanamkan, kepada hubungan yang memberi makna, dan kepada ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kesibukan kota. Islam menyebut perjalanan kembali ini dengan indah: رُجُوْع إِلَى الأَصْل kembali kepada asal. Dan barangkali, itulah hakikat mudik yang sesungguhnya.
Mudik adalah jawaban atas pertanyaan yang mungkin tidak pernah kita ucapkan dengan lantang: dari mana kita berasal, dan ke mana kita seharusnya kembali? mudik mengajarkan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari akarnya dan justru di situlah letak kekuatan sejatinya.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Semoga Allah menerima amal kita semua. Selamat mudik.