Fenomena Bukber: Tinjauan Psikologi Sosial terhadap Kebutuhan Kebersamaan di Era Modern

Uncategorized

Dr. Linda Ardiya Waroka, S.Pd., M.Psi
Praktisi psikologi dan pendidikan

Buka bersama (bukber) selama bulan Ramadan telah berkembang dari tradisi keluarga sederhana menjadi fenomena sosial yang meluas dilakukan oleh teman sekolah, rekan kerja, komunitas, hingga kelompok yang dibentuk lewat media sosial. Di tengah kesibukan modern dan individualisme yang makin terasa, bukber hadir sebagai momen untuk berkumpul, mempererat hubungan, sekaligus menegaskan identitas sosial. Artikel ini membedah fenomena bukber dari perspektif psikologi sosial, mengulas motivasi individu dan dinamika kelompok yang melatarinya, serta mengaitkannya lebih mendalam dengan nilai-nilai Islam yang menekankan ukhuwah, solidaritas, dan dimensi spiritual.

Motivasi sosial di balik bukber
Secara psikologi sosial, perilaku berkumpul termasuk bukber didorong oleh kebutuhan dasar manusia akan afiliasi dan koneksi sosial. Teori kebutuhan afiliasi (Baumeister & Leary) menyatakan bahwa hubungan sosial yang stabil dan bermakna penting bagi kesejahteraan psikologis. Bukber menyediakan konteks terjadinya komunikasi hangat, dukungan emosional, dan rasa diterima hal yang kerap sulit ditemukan dalam rutinitas kerja atau studi.

Selain kebutuhan afiliasi, bukber dapat dilihat melalui lensa teori pertukaran sosial. Pertemuan ini memungkinkan tukar-menukar manfaat sosial (mis. jaringan, informasi, status), di mana partisipan mendapat penghargaan sosial seperti pengakuan, rasa dihargai, atau akses ke sumber daya sosial. Pada level tertentu, bukber menjadi arena penguatan jejaring profesional yang berguna di luar konteks religi. Identitas sosial dan pembentukan kelompok
Bukber bukan sekadar makan bersama; ia berfungsi sebagai alat pembentukan dan pemeliharaan identitas kelompok. Menurut teori identitas sosial (Tajfel & Turner), individu mendefinisikan diri melalui keanggotaan kelompok. Menghadiri bukber dapat memperkuat rasa “kita” misalnya komunitas kampus, departemen kerja, atau kelompok hobi yang pada gilirannya meningkatkan kohesi kelompok dan loyalitas interpersonal.

Fenomena ini sering diperkuat oleh ritualisasi: undangan rutin, pembagian tugas (membawa makanan, menyiapkan tempat), hingga simbol-simbol bersama (doa, pembacaan ayat, atau pembicaraan tematik). Ritual-ritual ini menambah makna kolektif dan menegaskan norma-norma kelompok, sehingga anggota merasa terikat dan diakui.

Konformitas, tekanan sosial, dan dinamika negative Namun, tidak semua aspek bukber bersifat positif. Tekanan sosial dan konformitas dapat mendorong individu hadir bukan karena keinginan intrinsik, tetapi untuk memenuhi ekspektasi kelompok. Konformitas ini bisa berasal dari norma sosial tak tertulis—misalnya, rasa bersalah jika tidak datang atau kekhawatiran kehilangan relasi penting. Eksperimen klasik Asch tentang konformitas mengingatkan bahwa tekanan mayoritas bisa membuat individu mengubah perilaku demi kesesuaian sosial.

Selain itu, bukber berpotensi menjadi arena performatif, di mana partisipan menampilkan citra tertentu melalui pilihan makanan, cerita, atau foto yang diposting di media social sebagai bentuk impresi manajemen (Goffman). Hal ini bisa memicu kompetisi status halus, konsumsi berlebih, atau pemborosan yang kontradiktif dengan spirit Ramadan yang mengedepankan kesederhanaan dan empati kepada yang membutuhkan.

Peran media sosial dalam menggencarkan tren bukber
Media sosial mempercepat penyebaran tren bukber. Undangan, foto makanan, dan video singkat yang diunggah menciptakan norma visual dan ekspektasi tentang bagaimana bukber “seharusnya” berlangsung. Efek penularan sosial (social contagion) bekerja di sini: melihat postingan menarik memicu imitasi mencoba konsep serupa demi merasakan kesamaan pengalaman atau untuk mendapatkan pengakuan online. Sisi positifnya, media sosial memudahkan koordinasi dan inklusi; sisi negatifnya, ia memperbesar tekanan tampil dan konsumsi berlebih.

Kaitan dengan nilai-nilai Islam
Dari sudut pandang Islam, bukber dapat dipahami sebagai ekspresi praktis dari nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan), ta’awun (tolong-menolong), dan syukur. Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbuka puasa bersama dan memperhatikan sesama: berbagi makanan, memberi makan orang yang berpuasa, dan mempererat hubungan sosial merupakan perbuatan yang mendapat pahala. Tradisi berbuka bersama juga merefleksikan nilai solidaritas komunitas sesuatu yang sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kepedulian sosial, pemberian sedekah, dan perhatian kepada fakir miskin.

Namun, perspektif agama juga memberikan koreksi moral terhadap bentuk-bentuk praktik yang menyimpang dari tujuan spiritual Ramadan. Apabila bukber berubah menjadi ajang pamer kemewahan, pemborosan makanan, atau kompetisi status, hal itu bertentangan dengan prinsip kesederhanaan (zuhud dalam konteks sosial) dan keadilan sosial. Islam mengingatkan niat (niyyah) sebagai kriteria utama bagi suatu tindakan: kegiatan sosial seperti bukber lebih bernilai jika dilakukan dengan niat mempererat ukhuwah, meningkatkan ketakwaan, dan berbagi dengan yang membutuhkan, bukan semata untuk pencitraan.

Lebih jauh, praktik bukber yang diintegrasikan dengan kegiatan ibadah misalnya salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, atau doa Bersama menghadirkan dimensi spiritual yang memperkaya pengalaman sosial. Bukber yang dilandasi nilai religius mampu menjembatani kebutuhan afiliasi manusia dengan tujuan transenden; kebersamaan tidak hanya memuaskan kebutuhan psikologis, tetapi juga memperkuat komitmen moral dan spiritual individu terhadap komunitas. Fenomena bukber mencerminkan kebutuhan manusia akan koneksi sosial di tengah gaya hidup modern. Dari perspektif psikologi sosial, bukber memenuhi kebutuhan afiliasi, memperkuat identitas kelompok, dan menyediakan jaringan social tetapi juga rentan terhadap konformitas, performativitas, dan tekanan sosial. Dalam kacamata Islam, bukber memiliki potensi kuat sebagai sarana penguatan ukhuwah, solidaritas, dan ibadah sosial apabila dilandasi niat yang benar dan kesadaran akan nilai-nilai agama. Dengan demikian, bukber adalah ruang di mana dinamika sosial dan dimensi religius bertemu: ia bisa menjadi medium yang memperkaya hubungan antarmanusia sekaligus meneguhkan komitmen spiritual, asalkan esensi religiusnya tetap dijaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *