Dr. Linda Ardiya Waroka, S.Pd., M.Psi
Praktisi psikologi dan pendidikan
Tunjangan Hari Raya (THR) bagi anak-anak saat Lebaran adalah praktik yang umum di banyak keluarga: amplop berisi uang kecil diberikan sebagai simbol kegembiraan, penghargaan, dan tradisi. Di balik keceriaan itu, THR juga membawa implikasi psikologis dan sosial yang penting bagi perkembangan anak. Artikel ini membedah fenomena THR dari sudut pandang psikologi social mengurai bagaimana THR berfungsi sebagai reward, sarana sosialisasi nilai ekonomi dan moral, serta potensi memunculkan tekanan sosial dan perbandingan—dan mengaitkannya dengan ajaran Islam yang menekankan niat, keadilan, dan pendidikan moral.
THR sebagai reward dan penguatan perilaku
Dari perspektif psikologi belajar, THR bertindak sebagai reinforcement positif: pemberian hadiah setelah perilaku tertentu (misalnya membantu orang tua, berperilaku baik) memperbesar kemungkinan perilaku itu muncul lagi. Orang tua dapat memanfaatkan THR untuk menguatkan kebiasaan baik misalnya menyisihkan uang untuk sedekah, menabung, atau menunjukkan sikap sopan saat berkunjung ke sanak saudara. Dalam konteks ini, THR bukan hanya transaksi material, melainkan alat pembelajaran yang efektif bila disertai penjelasan dan pembiasaan.
Namun, penting dibedakan antara reinforcement yang bermakna dan hadiah yang bersifat sekadar imbalan tanpa konteks. Jika THR hanya diberikan sebagai rutinitas tanpa kaitan nilai, anak mungkin memandangnya semata-mata sebagai konsumsi dan mengasosiasikan perilaku baik hanya dengan imbalan eksternal mengurangi motivasi intrinsik untuk bertindak baik demi kepuasan moral atau religi.
Sosialisasi nilai: uang, tanggung jawab, dan pemahaman ekonomi
THR juga menjadi momen sosialisasi ekonomi awal bagi anak. Melalui pengalaman menerima dan menggunakan uang, anak belajar konsep nilai, pengeluaran, tabungan, dan prioritas. Orang tua dapat membimbing anak belajar menabung sebagian, merencanakan pembelanjaan untuk kebutuhan jangka pendek, atau menyisihkan untuk sedekah. Pembelajaran ini membentuk literasi keuangan dasar yang berguna di masa depan.
Secara psikologi sosial, persepsi anak terhadap uang dipengaruhi oleh lingkungan apa yang dilakukan teman-teman, bagaimana orang dewasa berbicara tentang uang, dan norma keluarga. Jika anak melihat bahwa THR digunakan untuk pamer atau membeli barang mewah demi status, mereka mungkin menginternalisasi nilai materialistis. Sebaliknya, jika THR dibingkai sebagai bagian dari tanggung jawab sosial (misalnya memberi kepada yang membutuhkan), nilai empati dan keadilan dapat tertanam.
Perbandingan sosial dan tekanan: dampak pada harga diri dan relasi sebaya
Kelemahan penting dari praktik THR adalah munculnya perbandingan sosial. Teori perbandingan sosial (Festinger) menjelaskan bahwa individu, termasuk anak-anak, cenderung membandingkan diri mereka dengan orang lain untuk menilai posisi sosial. Saat anak mendengar cerita teman tentang jumlah THR atau melihat unggahan media sosial tentang “amplop lebaran”, mereka bisa merasa iri, malu, atau tekanan untuk mendapatkan jumlah serupa.
Perbandingan ini dapat berdampak pada harga diri dan relasi antarsesama. Anak yang menerima jumlah lebih kecil mungkin merasa diremehkan; sebaliknya, anak yang menerima lebih besar bisa mengembangkan ekspektasi berlebih atau merasa superior. Dalam kelompok sebaya, perbedaan THR dapat memicu kompetisi material, keinginan untuk pamer, atau bahkan bullying berbasis kemampuan ekonomi.
Peran orang tua dan norma keluarga dalam mengelola dampak sosial
Psikologi sosial menekankan peran norma keluarga dan komunikasi orang tua dalam membentuk interpretasi anak terhadap THR. Transparansi (menjelaskan alasan pembagian, mendorong sikap berbagi), penekanan pada nilai-nilai seperti syukur dan tanggung jawab, serta pembiasaan memberi sebagian untuk sedekah dapat mengurangi risiko materialisme dan perbandingan negatif.
Model perilaku orang tua penting: anak meniru bagaimana orang tua memperlakukan uang dan merayakan hari raya. Jika orang tua menunjukkan sikap rendah hati dan fokus pada kebersamaan, anak cenderung mengikuti. Sebaliknya, jika perayaan menonjolkan konsumsi berlebihan, anak belajar bahwa status material adalah inti perayaan.
Kaitan dengan ajaran Islam
Dalam perspektif Islam, memberikan hadiah pada hari raya dapat dilihat sebagai ekspresi kegembiraan, perhatian, dan ukhuwah (persaudaraan). Islam mengajarkan keseimbangan: merayakan kebaikan, bersyukur, dan mengekspresikan kasih sayang, sambil menghindari pemborosan dan pamer (riya’). Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbagi dan memperhatikan orang miskin—nilai yang relevan ketika THR dijadikan sarana untuk membiasakan sedekah pada anak.
Niat (niyyah) menjadi aspek sentral dalam penilaian moral tindakan dalam Islam. Pemberian THR bernilai lebih jika didasari niat untuk mendidik, memberi berkah, atau membantu, bukan sekadar menunjukkan kemampuan ekonomi. Mengajarkan anak tentang konsep zakat, sedekah, dan tanggung jawab sosial pada momen THR bisa menyelaraskan pengalaman material dengan dimensi spiritual: anak belajar bahwa uang bukan sekadar untuk kepuasan diri, tetapi juga alat untuk berbuat baik.
THR untuk anak adalah praktik bernilai yang membawa peluang edukatif sekaligus tantangan psikososial. Dari sudut pandang psikologi sosial, THR dapat berperan sebagai reinforcement positif untuk perilaku baik, sarana sosialisasi nilai ekonomi, dan pengenalan tanggung jawab sosial. Namun, tanpa pengelolaan nilai yang tepat, THR juga berpotensi memicu perbandingan sosial, tekanan sebaya, dan materialisme.
Mengaitkannya dengan perspektif Islam menegaskan pentingnya niat, keseimbangan, dan solidaritas: THR dapat menjadi momen pendidikan moral jika didasari niat yang benar dan diiringi penjelasan nilai-nilai seperti syukur, berbagi, dan kepedulian terhadap yang kurang beruntung. Bagi orang tua dan pendidik, tantangannya adalah memanfaatkan momen sederhana ini bukan hanya sebagai tradisi ekonomi, tetapi sebagai peluang membentuk karakter anak menjadikan THR sarana pembelajaran nilai, bukan sekadar hadiah materi.