Dr Fauzi Rochman, S.Pd.I., M.S.I
Akademisi dan Wakil Ketua Bidang Riset, Teknologi dan MSDM PDPM Kota Yogyakarta
Ada satu momen di hari Lebaran yang tidak bisa digantikan oleh ucapan selamat via WhatsApp, stiker lucu, atau video call secanggih apapun. Tadisi ujung dan sungkeman dengan duduk bersimpuh, mengatupkan kedua tangan, dan mengucap permohonan maaf langsung bertatap muka. Sederhana, tapi meluluhlantakkan.
Bagi masyarakat Jawa, ujung bukan sekadar agenda rutin setelah salat Id. Ia adalah ritual yang memiliki kedalaman luar biasa, sebuah tradisi turun-temurun di mana seseorang mendatangi orangtua, sanak saudara, tetangga, dan sesepuh kampung untuk bersalam-salaman dan memohon maaf dengan tulus. Berbeda dari sekadar jabat tangan biasa, ujung dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa ada hutang perasaan yang perlu diselesaikan, ada luka yang perlu diakui, dan ada hubungan yang perlu diperbaharui.
Dalam psikologi sosial, apa yang terjadi saat ujung adalah sesuatu yang para peneliti sebut sebagai restorative process yaitu proses pemulihan relasi sosial yang terganggu. Manusia, secanggih apapun peradabannya, selalu menyimpan luka-luka kecil dalam hubungan sosialnya, salah paham yang tidak sempat dibicarakan, kata-kata yang terlanjur terucap, atau perhatian yang lupa diberikan. Semua itu mengendap diam-diam. Dan ujung adalah momen ketika endapan itu dibersihkan, bukan dengan perdebatan, tapi dengan kerendahan hati yang hadir secara fisik.
Yang menarik, bahwa kehadiran fisik memiliki kekuatan yang tidak bisa direplikasi secara digital. Saat seseorang datang ke rumah, duduk sambil sungkem, dan berkata “Nyuwun pangapunten” seketika otak secara otomatis memproses itu sebagai sinyal ketulusan yang jauh lebih kuat dibanding pesan teks apapun. Inilah yang disebut sebagai embodied communication yaitu komunikasi yang melibatkan tubuh secara penuh. Dan ujung adalah salah satu praktik paling purba sekaligus paling canggih dari konsep ini.

Islam menempatkan maaf-memaafkan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai puncak kekuatan karakter. Al-Qur’an bahkan menyebutnya sebagai sifat orang-orang yang bertakwa yaitu mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia. Dan inilah yang secara tidak sadar dipraktikkan dalam tradisi ujung ketika seseorang harus mengalahkan egonya terlebih dahulu kemudian bersedia datang duluan, bersedia duduk lebih rendah, bersedia mengucapkan kata yang mungkin terasa berat hanya demi memulihkan hubungan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
“Ujung mengajarkan bahwa meminta maaf bukan tentang siapa yang salah tapi tentang siapa yang cukup berani untuk memulai perdamaian.“
Ada dimensi psikologis lain yang bekerja diam-diam dalam ritual ujung, yaitu apa yang para ahli sebut sebagai konsep rekognisi sosial. Ketika seseorang mendatangi orang lain apalagi yang lebih tua atau yang selama ini jarang tersapa ada pesan yang terkirim tanpa kata-kata, tapi terasa sangat kuat: “Kamu penting bagiku. Keberadaanmu berarti.” Dan dalam psikologi, diakui keberadaannya adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling fundamental. Tidak sedikit konflik yang sebenarnya bukan soal kesalahan besar, melainkan soal rasa tidak dianggap, tidak dilihat, tidak dihargai. Ujung, dengan segala kesederhanaannya, menjawab kebutuhan itu secara langsung.
Generasi muda kadang memandang ujung sebagai tradisi yang “ribet” harus keliling dari rumah ke rumah, antri, duduk formal, kadang canggung. Tapi justru di situlah letak maknanya. Kecanggunganlah yang membuat ujung autentik. Kalau mudah, kalau cukup dengan emoji 🙏, maka tidak ada yang dikorbankan. Dan pengorbanan kecil itulah seperti waktu, energi, ego yang membuat maaf yang diucapkan dalam ujung terasa sungguhan, bukan sekadar basa-basi sosial.
Di era di mana hubungan manusia semakin dimediasi layar, ujung adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang hanya bisa diselesaikan dengan cara yang sangat manusiawi yaitu dengan hadir, menatap, dan berbicara langsung dari hati ke hati. Psikologi sosial menyebutnya sebagai face-to-face repair. Nenek moyang kita menyebutnya ujung. Keduanya bicara tentang hal yang sama bahwa manusia diciptakan untuk terhubung dan terkadang terhubung kembali itu butuh keberanian.