Antara Prestasi dan Depresi ;Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Kota Pelajar

Gagasan Aktual

Yogyakarta dikenal sebagai ‘Kota Pelajar’; kampus-kampus besar, sekolah-sekolah berkualitas, pusat-pusat belajar, suasana akademik yang hidup, dan ribuan pelajar serta mahasiswa yang menuntut ilmu, termasuk  ramainya event pendidikan seperti agenda workshop, seminar, diskusi, lomba-lomba, pameran, dan sebagainya Di balik semangat belajar itu muncul sebuah pertanyaan ; apakah tekanan akademik dan budaya prestasi membuat remaja di Jogja lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental,  terutama depresi dan rendahnya resiliensi? Atau justru sebaliknya ? Kenyataan  menunjukkan masalah gangguan kesehatan mental pada remaja memang ada, dan memerlukan perhatian bersama. Tidak semua anak memiliki jalur perjalanan akademik dan emosional yang lurus tanpa hambatan.

Secara nasional, Survei Kesehatan Indonesia dan laporan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada kelompok usia muda (15–24 tahun) lebih tinggi dibanding populasi umum, dengan angka terpusat sekitar ~2% pada kelompok usia 15–24 tahun menurut ringkasan Kemenkes (2023). Di tingkat kota, rilis terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melaporkan bahwa perhatian meningkat pada isu kesehatan jiwa: pada 2024 tercatat 3.239 orang dengan gangguan jiwa di Kota Yogyakarta (prevalensi kota ≈0,78%), dan catatan menunjukkan bahwa kelompok remaja merupakan bagian yang memerlukan intervensi. Penelitian dan laporan akademik juga menunjukkan bahwa peningkatan masalah emosional dan perilaku pada remaja pasca-pandemi, dengan beberapa studi nasional menemukan gejala kecemasan dan depresi yang signifikan pada populasi siswa sekolah. Di samping itu, Yogyakarta dan sekitarnya (termasuk beberapa kabupaten seperti Gunung Kidul) pernah dilaporkan memiliki angka bunuh diri anak/remaja yang relatif tinggi, menandakan masalah serius pada kesejahteraan remaja.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada rendahnya resiliensi dan meningkatnya risiko depresi pada remaja,  antara lain : adanya tekanan akademik yang cukup tinggi bagi sebagian siswa / mahasiswa. Kultur mengejar “prestasi” (nilai, lomba, seleksi beasiswa, seleksi siswa baru di sekolah-sekolah unggulan, juga penerimaan mahasiswa baru di jurusan dan kampus favorit) dapat menciptakan stress pada remaja. Sebuah penelitian menunjukkan hubungan kuat antara stres akademik dan penurunan motivasi, kecemasan, hingga depresi. Selain juga banyak remaja yang sering membandingkan diri lewat media sosial,  kesuksesan dan capaian teman, gaya hidup, atau “ekspektasi ideal” memperkuat perasaan “tidak cukup”. Salahsatu faktor yang sangat penting adalah perlunya dukungan keluarga. Komunikasi keluarga yang buruk, tekanan orang tua untuk meraih prestasi, serta rendahnya dukungan emosional meningkatkan risiko gangguan mental. Penelitian menemukan bahwa komunikasi intrafamilial merupakan faktor protektif yang sangat dibutuhkan bagi remaja untuk bisa kuat menghadapi berbagai tekanan dalam hidupnya.

Menurut teori perkembangan remaja dari Erikson, Masa remaja adalah fase pencarian identitas; tekanan eksternal yang intens dapat mengganggu pembentukan identitas sehat dan melemahkan daya tahan psikologis. Ketika tuntutan (stressors) melebihi sumber daya koping remaja, mereka mengalami tekanan kronis yang memicu gangguan afektif.

Gangguan kesehatan mental memberikan dampak jangka pendek berupa penurunan konsentrasi, absensi, performa akademik, dan hubungan interpersonal. Jika tidak ditangani, kondisi kronis dapat berujung pada gangguan depresi mayor dan risiko bunuh diri.

Pencegahan dan intervensi masalah kesehatan mental pada remaja harus bersifat multidimensi, dari individu, keluarga, sekolah, masyakat, komunitas dan juga tokoh agama. Untuk sekolah dan kampus, penting untuk melakukan screening dan deteksi dini kesehatan mental siswa / mahasiswanya. Di tengah berat dan padatnya tuntutan akademik, diharapkan kehadiran Guru atau Dosen dapat sebagai penunjuk jalan yang penuh dukungan tentang indahnya dunia pendidikan, bukan malah sebaliknya. Tingkatkan jumlah guru BK / Psikolog di sekolah; sediakan jam konseling fleksibel dan jalur rujukan cepat ke fasilitas kesehatan mental. Ajarkan keterampilan regulasi emosi, pemecahan masalah, literasi media sosial, dan keterampilan coping (mindfulness, problem-solving). Dukungan dari pemerintah diharapkan untuk menyediakan fasilitas akses layanan di Puskesmas/RS setempat, dengan layanan ramah remaja.

Kota Pelajar akan tetap menjadi pusat belajar . Namun, jika “prestasi” berubah menjadi beban mental yang menghancurkan masa depan generasi muda, maka kita perlu menyeimbangkan target akademik dengan prioritas kesejahteraan. Pendekatannya harus menyeluruh, screening, pendidikan emosional, akses layanan, serta budaya keluarga yang mendukung. Dengan langkah-langkah ini, Jogja bisa menjadi contoh kota pelajar yang tak hanya unggul dalam hal kualitas akademik, tetapi juga sehat secara mental.

Dr. Shinta, M.Si., M.A. (Bunda Cinta)
Praktisi Psikologi & Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *