Menanam Keadilan Seumur Hidup: Pesan Ikhwan Ahada untuk Pemimpin Muda Muhammadiyah

Gagasan Aktual

Ditulis oleh: Ilham Hardianto (Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PDPM Kota Yogyakarta)

Yogyakarta — “Kalau Anda punya waktu tiga bulan, tanamlah padi. Kalau Anda punya waktu sepuluh tahun, tanamlah pohon. Tetapi jika Anda punya waktu seumur hidup, tanamkan rasa keadilan.”

Kalimat reflektif itu menjadi pesan paling membekas dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikhwan Ahada, dalam sambutannya pada kegiatan BAM PWPM DIY.

Bagi Ikhwan Ahada, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan berdiri di depan, memberi arahan, atau mengambil keputusan. Kepemimpinan adalah perjalanan panjang membentuk pribadi yang mampu mengayomi, menghadirkan rasa aman, sekaligus membawa perubahan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Kepemimpinan yang Mengayomi dan Transformatif

Menurut Ikhwan Ahada, pemimpin ideal adalah sosok yang mampu mengayomi, ngayemi, dan bersifat transformatif. Ketiga karakter tersebut menggambarkan kepemimpinan yang tidak berhenti pada kewenangan formal, tetapi hadir sebagai kekuatan yang menenteramkan sekaligus menggerakkan perubahan.

Mengayomi berarti memberi perlindungan dan perhatian kepada orang-orang yang dipimpin. Sementara itu, ngayemi mengandung makna menghadirkan ketenangan, kenyamanan, dan rasa tenteram. Kehadiran seorang pemimpin seharusnya tidak melahirkan ketakutan atau kecemasan, melainkan keyakinan bahwa ada sosok yang bersedia mendengar, memahami, dan bertanggung jawab.

Adapun kepemimpinan transformatif menuntut keberanian membaca persoalan, mengembangkan potensi, dan menggerakkan masyarakat menuju tujuan bersama. Pemimpin tidak cukup hanya mempertahankan keadaan, tetapi harus mampu menghadirkan perbaikan yang nyata.

Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran John C. Maxwell bahwa kepemimpinan bertumbuh melalui proses yang dimulai dari posisi, hubungan, hasil, pengembangan manusia, hingga penghormatan. Pengaruh seorang pemimpin tidak lahir semata karena jabatan, tetapi karena kualitas relasi, keteladanan, dan kontribusinya bagi orang lain.

Namun, kepemimpinan yang mengayomi tidak boleh berhenti sebagai konsep. Ia harus tampak dalam tindakan sehari-hari: cara memperlakukan anggota, menerima kritik, menyelesaikan konflik, dan memastikan setiap keputusan tetap berpihak pada mereka yang paling membutuhkan perlindungan.

Kepemimpinan sebagai Amanah

Ikhwan Ahada mengaitkan gagasan tersebut dengan ajaran Rasulullah SAW melalui hadis:

“Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang menduduki jabatan publik. Guru memimpin peserta didiknya, orang tua memimpin keluarganya, pengurus memimpin organisasinya, dan setiap pemuda memikul tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.

Karena itu, kepemimpinan adalah amanah yang memiliki dimensi moral dan spiritual. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari keberhasilannya mencapai tujuan, tetapi juga dari cara ia memperlakukan manusia selama menjalankan amanah tersebut.

Integritas, kejujuran, semangat melayani, dan kesadaran akan konsekuensi setiap keputusan menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh popularitas atau kemampuan retorika semata.

Riyadhah: Jalan Panjang Membentuk Pemimpin

Menjadi pemimpin, menurut Ikhwan Ahada, membutuhkan riyadhah yaitu latihan dan pembentukan diri yang berlangsung terus-menerus. Kepemimpinan tidak lahir ketika seseorang memperoleh jabatan, melainkan tumbuh melalui pengalaman, pengendalian diri, dan keberanian menghadapi persoalan.

Riyadhah berarti membiasakan diri bertanggung jawab, disiplin, sabar, dan konsisten menjalankan amanah. Seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum berharap memimpin orang lain.

Proses itu tidak pernah mudah. Perbedaan pendapat, kegagalan, kritik, dan keputusan-keputusan sulit justru menjadi ruang ditempanya kematangan seorang pemimpin.

Dalam perspektif Islam, proses tersebut memiliki kedekatan dengan konsep mujahadah dan tazkiyatun nafs—perjuangan mengendalikan diri sekaligus menyucikan jiwa dari kesombongan, egoisme, dan kecenderungan mendahulukan kepentingan pribadi.

Karena itu, pendidikan kepemimpinan tidak cukup berhenti pada keterampilan teknis dan manajerial. Yang lebih penting adalah membangun karakter dan kedalaman spiritual agar amanah selalu berada di atas kepentingan diri sendiri.

Pemimpin yang Menghadirkan Rasa Aman

Salah satu ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya menghadirkan rasa aman.

Pemimpin yang baik tidak menempatkan dirinya sebagai pusat segala kepentingan. Sebaliknya, ia membangun kepercayaan dengan memahami kebutuhan anggotanya, membuka ruang dialog, dan memastikan setiap orang diperlakukan secara adil.

Rasa aman tidak berarti hilangnya aturan. Justru rasa aman lahir ketika aturan diterapkan secara konsisten, keputusan dapat dipertanggungjawabkan, dan martabat setiap orang dihormati.

Dalam lingkungan seperti itu, anggota lebih berani menyampaikan gagasan, mengemukakan kritik, dan mengambil inisiatif. Sebaliknya, kepemimpinan yang dibangun melalui ancaman hanya akan melahirkan kepatuhan semu.

Belajar dari Keteladanan KH AR Fachruddin

Sebagai contoh kepemimpinan yang menghadirkan rasa aman, Ikhwan Ahada mengingatkan kembali sosok KH AR Fachruddin, tokoh Muhammadiyah yang dikenal sederhana, dekat dengan masyarakat, dan konsisten dalam keteladanannya.

Pak AR menunjukkan bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari gaya kepemimpinan yang keras atau retorika yang besar. Justru kesederhanaan, keramahan, dan konsistensi sikap menjadi sumber kepercayaan yang bertahan lama.

Ikhwan Ahada juga mengangkat istilah Jawa ngesubhi—wajah yang memancarkan kecerahan seperti fajar—serta ngangeni, yakni sosok yang kehadirannya selalu dirindukan.

Pemimpin yang ngangeni bukanlah mereka yang memaksakan kehendak, tetapi mereka yang meninggalkan ketenteraman dan manfaat dalam kehidupan orang lain.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, keteladanan Pak AR menjadi pengingat bahwa pemimpin masa depan tetap membutuhkan akar berupa kesederhanaan, kedekatan dengan masyarakat, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama.

Kepemimpinan di Tengah Tantangan Bangsa

Ikhwan Ahada juga menyinggung kondisi bangsa yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

Rasa aman dalam kehidupan bernegara tidak hanya berkaitan dengan keamanan fisik, tetapi juga kepastian hukum, keadilan sosial, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara.

Ketika keadilan memudar, kepercayaan masyarakat ikut terkikis. Karena itu, pemimpin harus memastikan kewenangannya digunakan untuk melindungi dan melayani, bukan sekadar menguntungkan kelompok tertentu.

Perubahan yang dibutuhkan bukan hanya pergantian figur, melainkan perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara menggunakan kekuasaan demi kepentingan bersama.

Menanamkan Keadilan Seumur Hidup

Menjelang akhir sambutannya, Ikhwan Ahada menyampaikan pesan yang menjadi inti seluruh gagasannya.

“Kalau Anda punya waktu tiga bulan, tanamlah padi. Kalau Anda punya waktu sepuluh tahun, tanamlah pohon. Tetapi jika Anda punya waktu seumur hidup, tanamkan rasa keadilan.”

Ungkapan itu mengandung makna bahwa setiap rentang waktu memiliki bentuk pengabdian yang berbeda. Menanam padi memberi hasil cepat. Menanam pohon membutuhkan kesabaran. Sementara menanamkan keadilan adalah pekerjaan seumur hidup karena menyangkut pembentukan manusia dan kehidupan bersama.

Bagi seorang pemimpin, menanamkan keadilan berarti membangun sistem yang tidak diskriminatif, memperlakukan setiap orang dengan bermartabat, dan berani mengambil keputusan yang benar meski tidak selalu populer.

Bagi pemuda, pesan itu menjadi ajakan untuk menyiapkan diri menjadi generasi yang berpikir kritis, berwawasan luas, dan peka terhadap persoalan masyarakat.

Pemuda dan Masa Depan Kepemimpinan

Pesan utama Ikhwan Ahada adalah ajakan kepada pemuda Muhammadiyah untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mengayomi, menghadirkan rasa aman, dan memperjuangkan keadilan.

Pemuda tidak cukup dipersiapkan untuk menduduki posisi strategis. Mereka perlu dibentuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara moral melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana: menepati janji, bertanggung jawab atas tugas, menghargai perbedaan, mendengarkan orang lain, dan berani memperbaiki kesalahan.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah soal seberapa lama seseorang menduduki jabatan, melainkan seberapa dalam jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain. Sebab, jabatan dapat berakhir, tetapi rasa aman, keteladanan, dan keadilan yang ditanamkan seorang pemimpin dapat hidup jauh melampaui masa kepemimpinannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *