Oleh: Dr. Fauzi Rochman, S.Pd.I., S.Psi., M.S.I. (Wakil Ketua Bidang Riset dan MSDM PDPM Kota Yogyakarta)
Ngapain sih serius-serius ngurus organisasi? Wong nggak dibayar. Malah kita yang sering keluar uang, waktu habis ngurus orang, pas ada masalah kita juga yang kena.”
Kalimat itu masih saya ingat betul.
Suatu malam, setelah rapat yang selesai cukup larut, seorang kawan menyampaikannya sambil tertawa. Tetapi saya tahu, itu bukan sekadar candaan. Di balik kalimat itu ada rasa lelah yang nyata. Ada uang bensin yang keluar dari kantong sendiri. Ada waktu bersama keluarga yang tertunda. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan tengah malam karena siangnya dipakai mengurus agenda organisasi. Dan yang paling berat, ketika ada persoalan, sering kali penguruslah yang pertama kali menerima kritik.
Saya tidak buru-buru membantahnya.
Karena kalau dipikir-pikir, memang benar.
Ngurus organisasi itu capek.
Lalu pertanyaannya, mengapa masih banyak kader Pemuda Muhammadiyah yang memilih bertahan?
Tidak Semua Kader Datang dengan Alasan yang Sama
Selama berproses di Pemuda Muhammadiyah, saya menyadari satu hal yaitu tidak semua orang datang dengan niat yang sama.
Ada yang masuk karena ingin belajar. Ada yang diajak teman. Ada yang mencari lingkungan yang baik. Ada yang ingin memperluas jaringan. Ada pula yang berharap pengalaman organisasi menjadi bekal karier di masa depan.
Semua itu wajar.
Dalam psikologi, manusia memang memiliki motivasi yang berbeda-beda. Edward Deci dan Richard Ryan menyebutnya sebagai motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Ada yang terdorong oleh pengakuan atau peluang dari luar, tetapi ada pula yang bertahan karena menemukan kepuasan dari proses bertumbuh itu sendiri.
Yang menarik, alasan seseorang bergabung tidak selalu menjadi alasan ia bertahan.
Banyak kader yang awalnya hanya ikut karena teman, tetapi kemudian menemukan keluarga. Ada yang awalnya sekadar mengisi waktu, lalu menemukan panggilan hidup. Ada pula yang datang tanpa tahu apa-apa tentang Muhammadiyah, tetapi pulang dengan membawa semangat untuk mengabdi kepada umat.
Di situlah organisasi bekerja.
Ia tidak hanya mengumpulkan orang, tetapi membentuk manusia.
Pemuda Muhammadiyah Mengajarkan Hal yang Tidak Ada di Ruang Kuliah
Di kampus kita belajar teori kepemimpinan. Di Pemuda Muhammadiyah kita belajar memimpin orang yang memiliki karakter berbeda-beda.
Di kelas kita belajar komunikasi.. Di organisasi kita belajar menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan tanpa memutus ukhuwah.
Di buku kita membaca manajemen konflik.. Di organisasi kita dipaksa mempraktikkannya ketika dua kader yang sama-sama kita hormati sedang berbeda pandangan.
Tidak ada sertifikat untuk pengalaman-pengalaman itu.
Tetapi justru pengalaman semacam itulah yang diam-diam membentuk kedewasaan.
Bahkan, banyak pelajaran terbesar lahir bukan saat menjadi peserta, melainkan ketika dipercaya memegang amanah menjadi ketua panitia, mengurus kaderisasi, menyusun program kerja, atau menerima kritik yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Mungkin inilah yang dimaksud Muhammadiyah ketika menjadikan kaderisasi sebagai proses, bukan sekadar acara.
Yang Paling Melelahkan Ternyata Bukan Organisasinya
Lama-kelamaan saya menyadari sesuatu.
Yang paling melelahkan bukan rapatnya.
Bukan acaranya.
Bukan bahkan kritiknya.
Yang paling melelahkan adalah ketika kita lupa mengapa kita pernah memilih bertahan.
Kalimat ini mengingatkan saya pada Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Ia mengatakan bahwa manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan ketika menemukan makna di balik penderitaan itu.
Barangkali organisasi juga seperti itu.
Rapat terasa berbeda ketika kita tahu mengapa kita hadir.
Keluar uang terasa lebih ringan ketika kita memandangnya sebagai investasi nilai, bukan sekadar pengeluaran.
Perjalanan pulang tengah malam terasa lebih bermakna ketika kita sadar bahwa yang sedang dibangun bukan hanya program kerja, tetapi manusia-manusia yang kelak akan meneruskan estafet perjuangan.
Makna memang tidak menghilangkan rasa lelah.
Tetapi makna membuat lelah tidak terasa sia-sia.
Amanah Memang Tidak Selalu Nyaman
Dalam Muhammadiyah, kita sering mendengar kata amanah.
Namun amanah sering kali terdengar indah sebelum benar-benar dipikul.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini berbicara tentang tanggung jawab, bukan tentang kenyamanan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Artinya, keberhasilan kader tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tetapi dari seberapa baik ia menjaga amanah ketika tidak ada tepuk tangan.
Di sinilah makna ikhlas sering disalahpahami.
Ikhlas bukan berarti tidak boleh lelah.
Ikhlas bukan berarti tidak boleh kecewa.
Ikhlas adalah tetap menjaga arah niat meskipun perjalanan terasa berat.
Bukankah Al-Qur’an juga mengajarkan fastabiqul khairat yang artinya berlomba-lomba dalam kebaikan? Perlombaan itu bukan selalu tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling konsisten menghadirkan manfaat.
Kalau Capek, Jangan Langsung Pergi
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua kader harus bertahan selamanya di organisasi.
Istirahat itu perlu.
Evaluasi itu sehat.
Mengurangi beban ketika sudah terlalu berat juga bukan kesalahan.
Tetapi sebelum memutuskan pergi, mungkin ada tiga pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri.
Tiga Pertanyaan untuk Seorang Kader
- Aku pertama kali datang ke Pemuda Muhammadiyah untuk apa?
- Apa yang berubah dalam diriku setelah berproses di sini?
- Kalau hari ini aku berhenti, nilai apa yang akan tetap kubawa dari organisasi ini?
Kadang-kadang jawaban atas tiga pertanyaan sederhana itu lebih jujur daripada seribu alasan yang kita ucapkan kepada orang lain.
Pada Akhirnya, Kita Memilih Menjadi Kader Seperti Apa
Pada akhirnya, Pemuda Muhammadiyah hanyalah ruang.
Yang menentukan nilainya bukan nama organisasinya, tetapi cara kita menghidupinya.
Ada yang sekadar numpang nama.
Ada yang mencari nama.
Ada yang datang karena teman.
Ada yang pergi tanpa meninggalkan jejak.
Tetapi ada pula yang memilih menjadikan organisasi sebagai tempat menempa diri sebelum mengabdi kepada masyarakat.
Maka pertanyaannya bukan lagi, “Capek nggak ngurus organisasi?”
Karena jawabannya hampir pasti: capek.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Capek untuk apa?
Sebab dari ruang rapat yang sederhana, dari kopi yang dingin di lesehan angkringan, dari diskusi yang kadang berakhir tengah malam, dan dari perjalanan pulang yang sunyi, sedang lahir sesuatu yang sering tidak kita sadari.
Bukan sekadar program kerja.
Bukan sekadar laporan kegiatan.
Tetapi kader-kader yang sedang ditempa menjadi manusia yang lebih matang dalam berpikir, lebih luas dalam melayani, dan lebih kuat dalam memikul amanah.
Karena pada akhirnya, Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar tempat kita bekerja untuk organisasi. Ia adalah tempat kita ditempa hari ini, agar kelak layak menjadi pemimpin umat.