Dr.Yessi Handriyani.M.kes
Praktisi & penulis Buku
Psikologi naratif yang dipopulerkan oleh psikolog Northwestern University Dan P. McAdams melalui karyanya The Stories We Live By (1993) berpendapat bahwa identitas personal terbentuk dari cara seseorang menyusun pengalaman hidupnya menjadi narasi yang koheren dan bermakna. Islam, jauh sebelum psikologi modern merumuskan konsep ini, telah menegaskan prinsip serupa melalui firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Ayat ini bukan sekadar motivasi, ia adalah pernyataan teologis tentang agensi naratif: bahwa perubahan dimulai dari dalam, dari cara seseorang memandang dan menceritakan dirinya kepada dirinya sendiri.
Konsep ini bersinggungan langsung dengan fenomena self-esteem atau harga diri. Penelitian Morris Rosenberg dalam Society and the Adolescent Self-Image (1965) membuktikan bahwa harga diri seseorang tidak tumbuh dari prestasi semata, melainkan dari seberapa kuat dan positif narasi yang ia bangun tentang dirinya sendiri. Dalam tradisi Islam, fondasi narasi diri yang sehat justru diletakkan pada konsep karamah dan kemuliaan yang Allah berikan kepada setiap manusia tanpa syarat prestasi, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Isra’ ayat 70: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” Kemuliaan itu tidak perlu dibuktikan. Ia sudah ada. Ia mendahului setiap ujian, setiap seleksi, setiap nilai akademik yang tertera di lembar transkrip.
Namun realita di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta, Bandung, atau Malang menunjukkan hal yang berbeda. Ribuan mahasiswa perantau setiap tahunnya menghadapi apa yang psikolog sebut sebagai impostor syndrome dimana perasaan bahwa dirinya tidak cukup layak berada di lingkungan akademik tersebut yang secara langsung menggerus narasi diri mereka hingga self-esteem runtuh. Ironisnya, semakin tinggi reputasi sebuah kota pendidikan, semakin besar pula tekanan naratif yang dirasakan para penghuninya, karena kota itu sendiri telah menjadi karakter dalam cerita mereka , sebuah standar yang harus dipenuhi, bukan sekadar tempat yang ditinggali.
Ketika seorang mahasiswa gagal dalam ujian, tidak lulus seleksi organisasi bergengsi, atau merasa tertinggal dari teman-temannya yang tampak lebih cemerlang di media sosial, yang ia rasakan bukan sekadar kekecewaan situasional , melainkan ancaman eksistensial terhadap seluruh narasi hidupnya. Seolah satu kegagalan kecil mampu meruntuhkan keseluruhan cerita besar yang telah ia bangun sejak pertama kali memutuskan merantau. Dalam perspektif Islam, kondisi ini sesungguhnya adalah peringatan dari bahaya kibr terbalik: bukan kesombongan karena merasa lebih, melainkan kehancuran karena terlalu menggantungkan harga diri pada penilaian manusia dan pencapaian duniawi. Allah mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Bukan berarti hidup tanpa kesulitan tetapi setiap kesulitan yang hadir sudah ditakar, sudah diperhitungkan, sudah sesuai dengan kapasitas jiwa yang menanggungnya.
Fenomena ini oleh psikolog klinis Kristin Neff dari University of Texas dijelaskan sebagai konsekuensi dari rendahnya self-compassion atau ketidakmampuan seseorang untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan kebaikan yang sama seperti ia perlakukan orang lain ketika gagal. Islam menyebut dimensi ini dengan bahasa yang lebih dalam. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang paling banyak kasih sayangnya kepada manusia adalah yang paling banyak kasih sayang Allah kepadanya” (HR. Tirmidzi). Namun sering kali kita lupa bahwa diri sendiri pun termasuk dalam lingkaran “manusia” yang berhak menerima kasih sayang itu. Merantau bukan berarti kehilangan hak untuk bersikap lembut kepada diri sendiri ketika jatuh.
Data mempertegas urgensi ini: survei kesehatan mental mahasiswa yang dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia pada tahun 2023 mengungkap bahwa lebih dari 34 persen mahasiswa di perguruan tinggi negeri mengalami gejala kecemasan sedang hingga berat, dengan mahasiswa perantau di kota-kota pendidikan besar menjadi kelompok paling rentan, bukan semata karena beban akademik, melainkan karena beban narasi. Beban untuk menjadi versi diri yang pantas disebut “mahasiswa kota pelajar”: selalu berprestasi, selalu tumbuh, selalu punya cerita sukses untuk dikirimkan pulang kepada orang tua yang telah berkorban demi mimpi mereka.
Dalam kesunyian tekanan itu, Al-Qur’an menawarkan sebuah reframing naratif yang radikal. Surah Al-Insyirah ayat 5–6 menyatakan dua kali berturut-turut: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Para ulama tafsir mencatat bahwa kata al-‘usr (kesulitan) disebutkan dengan alif-lam yang menunjukkan kekhususan satu kesulitan yang sama sementara yusran (kemudahan) disebutkan tanpa alif-lam, artinya dua kemudahan yang berbeda. Dalam logika bahasa Arab, satu kesulitan selalu diapit oleh lebih dari satu kemudahan. Narasi seorang pelajar yang merantau, dengan segala kegagalannya, tidak pernah hanya berisi kesulitan meski kadang itulah satu-satunya yang terlihat.
Ketika realita tidak sejalan dengan narasi ideal, yang terjadi bukan sekadar stres biasa melainkan krisis identitas yang dalam, senyap, dan seringkali tidak terlihat oleh siapa pun, bahkan oleh sang pelajar itu sendiri. Di sinilah Islam menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh teori psikologi mana pun: sebuah saksi yang tidak pernah absen. Allah berfirman dalam Surah Qaf ayat 16: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Dalam krisis identitas yang paling sunyi sekalipun ketika tidak ada teman, tidak ada konselor, tidak ada orang tua yang bisa diceritakan ada Satu yang selalu hadir, selalu mendengar, dan tidak pernah menghakimi narasi yang belum selesai.
Karena mungkin itulah inti dari semua ini: narasi diri seorang pelajar tidak harus sempurna untuk bermakna. Ia hanya perlu jujur, ia hanya perlu terus ditulis dan ditulis dengan keyakinan bahwa Sang Penulis Terbaik tidak pernah meninggalkan kisah seorang hamba di tengah halaman yang kosong.